Apa Kata Mereka?

Kata teman 1

Di atas damri     : Banyak orang-orang yang bertalenta ada di Unpad tapi tidak banyak yang difasilitasi hingga akhirnya potensi mereka malah dilihat oleh orang lain karena akan bermanfaat bagi mereka. Jadilah ia difasilitasi, diberi dana untuk riset, disekolahkan hingga keluar negeri. Imbalan apa yang harus diberikan oleh orang yang bertalenta ini kepada orang yang membiayainya?. Mereka secara naluriah harus memberikan kontribusi, mengabdi ke institusi itu, memberikan hal terbaik dan mengangkat nama institusi. Lalu untuk unpad apa? Yang tinggal adalah penyesalan dan malah kebanggaan, dan mengaku, “ oh, dulu dia disini, di unpad”, padahal adalah suatu kesalahan besar untuk tidak memberikan fasilitas bagi orang yang bertalenta tersebut. Coba orang-orang seperti itu yang mengisi jajaran dosen ataupun pengasuh mahasiswa di Unpad, akan seperti apa wajah Unpad sekarang. Unpad butuh orang yang bertalenta, yang mau melakukan sesuatu hal sesuai bidangnya dan menjadi expert disitu. Universitas lain pun seperti itu, UI, ITB, UGM mereka memberikan hal terbaik dan support selalu kepada civitasnya sehingga mereka merasa dihargai dan tidak perlu disuruh-suruh, mereka secara naluriah akan berkontribusi untuk almamaternya. Tapi sayang sekali, hal inilah yang tidak terjadi  di almamaterku ini, orang yang eksis kebanyakan adalah orang bagus secara kualitas tapi sayang orientasinya masih harus dipertanyakan?. Kalau proses kaderisasinya seperti ini terus, akan tetaplah almamater ini menjadi seperti ini, menjadi bayang-bayang universitas besar lainnya. Pesan hari ini “Kalau kita merawat tanaman dengan baik, menjaganya, memberi pupuk, maka tumbuhan itu akan memberikan buah terbaiknya untuk kita nikmati, dan menelurkan bibit terbaik juga, begitu seterusnya”.

Kata orang 2

Di depan perpus FE         : Indonesia tidak dapat dipungkiri adalah negara yang sangat kaya. Tanahnya, lautnya, sumber daya alamnya,orang-orangnya yang berkualitas, maka layaklah setiap negara takut negara ini tumbuh berkembang, karena dapat diyakini kalau negara ini menemukan roh sejatinya, bukan macan asia lagi namanya, tapi sudah dinosaurus asia. Ketidakrelaan bangsa lain itupun bersambut ketika presiden terhormat kita, Soeharto, menyambut dana bantuan dari IMF dan Bank Dunia. Maka mengalirlah tangan-tangan serakah menjambret kekayaan Indonesia ini sampai sekarang, sementara si pemimpin agung tadi hanya mampu melongo dan diam karena sudah disumbat mulutnya dengan harta. Sangat miris sekali. Dan akhirnya bangsa inipun terkoyak, sistem korupsi merajalela, idealisme dalam pemerintah dan sisi apapun di negara ini adalah hal yang tabu, orang hidup dari jabatannya bukan menghidupi jabatannya. Bahkan sampai ada pameo bahwa bagi orang baru dipemerintah, jangan pernah nunjukin bahwa kita lebih pinter dari atasan, bisa-bisa jadi tukang foto kopi seumur hidup. Tidak ada tempat bagi orang pinter di negara ini, tapi orang yang pinter-pinter baru eksis. Sampai akhirnya bagaimana tragisnya nasib PT.DI. Salah satu BUMN paling prestis di Indonesia yang sekarang entah mau diapakan. PT.DI dimana tempat berkumpulnya orang-orang cerdas bangsa ini terpaksa kolap karena krisis dan si Bos IMF tidak membolehkan dana mereka digunakan untuk menyelamatkan aset negara ini. Padahal proyek terakhir PT ini sangat mencengangkan, mereka sudah mampu leading dari perusahaan Boeing ataupun Airbus. Kasihan. Sabotase bangsa lain pada negara ini. Maka terjadilah Brain Drain, orang –orang terbaik di PT ini di caplok dan dipekerjakan di Boeing, Airbus ataupun NASA, sementara PT DI dibiarkan melemah ditinggalkan orang terbaiknya. Jangan tanyakan loyalitas mereka? Mana penghargaan bagi intelektual berharga bangsa ini, mengapa tidak ada loyalitas. Jawabannya adalah wajar, karena negara inipun tidak berani dan tidak mampu menghargai orang-orang terbaiknya. Ini baru PT DI, belum intelektual terbaik Indonesia lainnya. Oh, Allah, aku akan menjadi bagian untuk membangun negara ini, aku akan mengusir orang-orang serakah yang menjadi parasit di negara ini. Semoga aku akan memiliki orang-orang yang kuat di sekelilingku untuk ku bangkitkan negara ini bersama mereka.

Kata orang 3

Di mesjid Al Jihad            : Tidak ada term waktu sekarang, hari ini dan akan datang dalam kehidupan karena ia adalah suatu resonansi yang saling membaur dan jika memiliki frekuensi yang sama, ia bertemu dan apa yang kita pikirkan sekarang akan terwujud dimasa depan, ataupun masa depan itu akan memberikan jalannya kepada kita, memberikan energinya. Pembicaraan dengan teman ketiga ini lebih berfokus kepada diri sendiri. Ia lebih menekankan pada, koreksi diri pribadi. Mau jadi apa kita, apa akan menjadi tipe orang yang hanya bekerja dan hanya puas untuk kebahagiaan sendiri. Bagaimana tanggung jawab kita pada negara ini. Gerakan pemuda sekarang sudah sangat banyak namun belum terkoordinasi dalam barisan yang baik, sehinggga seolah-olah saling saing menyaingi padahal, tujuan akhirnya jelas, Indonesia BANGKIT, SEJAHTERA dan BERMARTABAT. Harus ada kontemplasi besar-besaran dalam diri dan harus lebih banyak pemuda Indonesia yang peduli pada bangsa Ini.

Hari ini, KATA MEREKA, sangat mencerahkan, sangat menginspirasi, dan itulah yang selalu aku butuhkan untuk meningkatkan diri ini untuk suatu saat akan membawa gerakan perbaikan dan kebangkitan bangsa dengan pemuda terbaik lainnya. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s