Angin Fasifik di Tembok Besar Cina (1)

“Prak, tung, prak, tttrrrrr”, bunyi benda yang pecah akibat benturan tangannya karena kesal dengan semua yang terjadi saat ini. Sampai saat ini ia telah memecahkan beberapa perabotan rumah tangga yang menghiasi ruang tengah bangunan rumah itu. Sementara ibunya hanya bisa memandangi tingkah laku anaknya dari lantai 2 rumah itu. Rumah yang cukup mewah di pinggiran kota Jakarta itu. Sambil meneteskan air mata, ia tidak sanggup menyaksikan anak yang sangat di sayangi berubah sifat sejak kejadian waktu itu.

Dimas, anak laki-laki kesayangan keluarga itu telah berubah sama sekali. Dulu sifatnya begitu santun dan sangat menghormati orangtuanya. Namun, kejadian itu berawal 2 tahun yang lalu. Ketika ia pulang sekolah saat itu ia kelas 2 SLTP, ia menyaksikan suatu peristiwa di luar bayangannya. Suara pertengkaran itu sudah terdengar olehnya saat ia mau membuka pintu depan rumahnya. Suara pertengkaran karena ayahnya dikira selingkuh oleh ibunya.

Ayahnya yang mencoba bersabar dari tadi akhirnya mengalah setelah melihat istrinya yang tidak mau lagi mendengar pembelaannya. Ayahnyapun membalikkan badan, menuju pintu masuk dimas tadi, melintas di depannya dan seraya mengucapkan suatu kata kepada dimas “Dimas, kamu sekarang sudah besar, ayah akan kembali, ingat itu” ayahnya berujar dan perlahan melangkahkan kaki keluar menuju mobilnya dan menghilang di balik rerimbunan pepohonan di halaman depan.

Sedangkan ia yang dari tadi berdiri terpaku sendiri di depan pintu, menangis menyaksikan apa yang dilihatnya. Hatinya begitu hiba, sampai lidahnya kelu untuk mengungkapkan sepatah katapun. Tubuhnya seolah tak berasa dan pikiran halusinasi seolah-olah berkecamuk dimatanya. Tangisannya begitu halus dan sangat dalam menusuk ke relung hatinya, ia tidak bisa melepas pandangan dari ibunya yang terduduk gontai di lantai ubin putih itu. Suasana haru begitu terasa saat itu.

Seorang remaja yang masih sangat labil harus mendegarkan kejadian yang sangat sulit baginya untuk diterima. Kemaren hari-hari begitu berjalan melambat dan canda tawa masih terngiang di telinga dan pandangannya. Sangat dekat sekali suasana itu. Namun semuanya sontak berubah saat ia pulang siang itu setelah menuntut ilmu seperti kebiasaan sehari-harinya. Kejadian yang melunglaikan semangatnya, melemahkan setiap persendian tubuhnya.

“Ibu, kenapa ibu, kenapa? Apa yang terjadi, ibu, dimas tidak mengerti?”, ia mendekati ibunya dan menatapnya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir di kedua bola matanya. “Ayahmu nak, ayahmu…”, ibunya menceritakan panjang lebar.

“Tidakkkk…tidak mungkin, ayah….hiks…hiks…ibu bilang pada ku bahwa semua itu salah, bilang ibu…tidak mungkin…hiks..hiks..”, Ia menghempaskan badannya ke lantai dan tersungkur meratapi semua itu. “Aku tidak percaya…semuanya bohong…bohoooong…”, seiring pekikan itu ia berlari ke lantai dua menuju ruang kosong di pojok rumahnya itu, yah, itulah kamarnya. Ia masuk dan mengunci pintu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s