Angin Fasifik di Tembok Besar Cina (3)

Siang itu terasa mentari bersinar begitu menyengat dan hawa panas begitu menjalar kesetiap sisi kulit. Membuat suasana gerah dan mengalirkan keringat ke sekujur tubuh. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh seorang ibu penjual tempe goreng dipinggiran jalan utama terbesar di jakarta selatan itu. Panas seakan menjadi nyanyian pengiring baginya mengaduk-aduk adonan jualannya, seolah –olah panas itu menjadi sahabat yang selalu setia menemaninya.

Mekipun dengan modal yang terbatas, tapi dengan siklus jualan yang cepat, iapun dapat menabung sedikit demi sedikit untuk menyekolahkan Fina. Bahkan ilham dari jerih payah orang tuanya itu, Fina mampu menjadi siswi berprestasi tingkat Jakarta selatan meskipun ia masih kelas 1 SMA. Ini berkat prestasi-prestasinya selama ini baik dari SD dan SLTP dulu. Di SLTP dulu ia punya pengalaman yang tak terlupakan, ia selalu kalah dari anak pintar dari SLTP sebelah saat bertemu di lomba-lomba mata pelajaran fisika ataupun matematika.

Ia bertekad suatu saat bisa bertemu di perlombaan yang sama dan bisa mengalahkan remaja laki-laki itu. Berkat motivasi itu juga, baru-baru kemaren ia menjuarai OSN tingkat Jaksel bidang Fisika mengalahkan siswa-siswi yang rata-rata lebih tua darinya. Inilah sekiranya makna dari keberkahan harta itu.

Fina juga membantu berjualan dengan menitipkan kewarung-warung di sepanjang perjalanannya menuju sekolah tidak kurang 1,5 km jauhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s