Angin Fasifik di Tembok Besar Cina (4)

Kemarahannya pagi itu bertambah saat ibunya tidak mau memberikan uang untuk keperluan yang tidak berarti. Sudah sering dia meminta uang untuk keperluan tidak jelas. Kebanyakan untuk keperluan hura-hura dan traktir-traktir teman-teman. Ia lulus SLTP dengan nilai pas-pasan. Hanya sekolah itu yang menerima dimas yang nilainya sangat tidak memuaskan. Sekolah yang penuh coret-coretan dan perlu perbaikan gedung. Sekarang Kepsek dan guru-guru lagi mengusahakan untuk memperoleh dana hibah perbaikan sekolah dari pemerintah. Peristiwa perpisahan orang tua di depan matanya itu memang sangat  memukul mentalnya.

“Ibu, aku butuh duit bu, mana duitnya”, nada suaranya meninggi.

“Jangan nak, gunakan uang itu hal yang bermanfaat nak”, ibunya meyakinkan dia.

“Kalau ibu g’ mau ngasih bilang aja,..memang ibu tidak lagi sayang padaku, ehh…”, ia membanting kotak persegi ke lantai sampai pecah. Ia langsung pergi dan meninggalkan rumah itu menggunakan sepeda motornya.

Ketika ia pergi keluar rumah, seperti biasa ia akan nongkrong-nongkrong g’ jelas di perempatan jalan beberapa ratus meter dari sekolahnya. Bercanda, gojlog-gojlogan dengan teman-temannya, mengisi waktu dengan hal yang sama sekali tidak bermanfaat. Begitulah setiap hari, kehidupannya berjalan begitu datar dan tidak berarti.

“Eh, gimana cuy, kemaren gw ketemu sama anak SMA sebelah, songong banget anaknya, gw lewat gitu, diketawain sama dia”, ujar toni yang berada di sebelah dimas.

“Apa, siapa dia, berani banget, mau cari gara-gara lagi mereka, setelah kemaren kita serbu bareng-bareng, belum puas juga”, si gaspar yang berbadan besar kelihatan naik emosinya mendegar cerita toni.

Besok mereka akan menyerbu SMA itu. Mereka telah sepakat.

*

Esoknya, selesai sekolah mereka bersama-sama berangkat kesana, ke SMA sebelah, sementara motornya ia titipkan di depan warung Bu pipih.

Sore itu terjadilah tawuran yang paling besar antar kedua sekolah itu. Kelihatannya kekuatan mereka tidak seimbang. Sekolahnya yang menginisiasi untuk menyerbu pertama kali ternyata kalah banyak dan mulai terdesak. Dimas lari pontang panting sambil memegang tangannya yang berdarah. Ia lari menuju warung dan langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor. Begitu juga dengan temannya yang lain.

Ia langsung tancap gas menyusuri jalanan sempit agar tidak terkejar oleh musuh. Ia mengendari motor seperti orang yang kesetanan. Ia semakin memacu sepeda motornya, tapi saat di tikungan itu ia sudah berusaha mengerem, tapi karena terkejut dengan mobil yang datang dari arah kiri ia memutar stang motor ke kanan tapi sayang keputusannya salah, disana sedang berjalan kaki seorang remaja memakai kerudung menenteng bakul di tangannya, pulang dari sekolah juga, karena tidak sanggup menghentikan laju sepeda motor “Prakkkk” akhirnya tabrakan itu tidak bisa di cegah.

“Astagfirullah”, pekikan itu keluar dari mulut remaja putri itu, usahanya untuk menghindar terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s