Angin Fasifik di Tembok Besar Cina (6)

Remaja laki-laki itu masih terdiam seribu bahasa di pojok ruangan di lorong satunya lagi, menyembunyikan dirinya dari Ibu itu, tapi sayup-sayup ia masih mendengarkan pembicaraan mereka. Sambil merintih kesakitan, ia masih tidak percaya dengan kejadian yang menimpanya.

Beberapa waktu kemudian Ibu Guru itu berpamitan  pada Ibu Fina dan melangkah melewati remaja itu, Dimas.

“Ibu rasa kamu harus menjelaskan ini semua pada ibu itu dan Fina jika ia sadar nantinya, tapi Ibu saranin bukan sekarang, besok saja, mudah-mudahan kemarahannya sudah reda, Ibu harap kamu bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Informasi dari Ibu, Fina adalah anak teladan sekolah kami, ia sedang bersiap-siap mengikuti lomba di Bandung, dari raut mukanya, ibu mengetahui betapa ia sangat ingin mengikuti lomba itu, ibu sudah sering bercerita dengan Fina, ia adalah siswi kebanggaan kami, Ibu sendiri tidak tahu seperti apa kedepannya, tapi yang ibu tahu ini akan menjadi penyesalan mendalam baginya, karena ia sudah mempersiapkan semuanya dari jauh hari. Tapi gara-gara kejadian ini, ibu tidak yakin ia akan bisa mengikutinya. Apalagi dari kecelakaan itu, kepalanya cukup keras terbentur ke aspal, mudah-mudahan Allah masih melindunginya”, Tampak mata ibu itu berkaca-kaca menahan rasa haru saat menceritakan kisah Fina.

“Maafkan dimas bu, semuanya di luar kendali dimas, maaf bu, Dimas akan bertanggung jawab Bu, itu janji Dimas, Dimas akan menjelaskan semuanya pada mereka”, Dimas meyakinkan ibu itu dan tampak rona penyesalan terpampang di raut wajahnya.

“Ibu hanya berharap, kita sama-sama mengambil pelajaran dari sini, oh Fina, kasihan sekali nasibmu nak, semoga deritamu segera berakhir”, sambil menatap lampu rumah sakit yang bersinar redup, ibu itupun berpamitan dan segera melangkahkan kaki keluar.

Dia sendiri masih termangu, perasaannya menjadi tergugah, rasa yang selama ini hadir didirinya perlahan merayap masuk ke relung-relung hatinya, tanpa sadar satu tetes, dua tetes air mata telah menyeruak dari ke dua matanya. Ia sendiri tidak bisa membayangkan seperti apa perasaan keluarga Ibu itu. Kembali hatinya terenyuh, hati yang selama ini jauh dari rasa empati, hati yang keras dan pembangkang, namun dari kejadian tadi siang, ia mendapatkan pelajaran. Sore itu ia memutuskan untuk pulang dan berencana besok kembali lagi kesana.

*

Keesokan harinya, ia kembali ke rumah sakit itu, dilihatnya lorong itu, masih nampak seorang ibu yang menangis. Ia tidak sanggup berhadapan langsung dengan ibu itu dan ia pun memutuskan untuk kembali besok.

Begitulah terus sampai 3 hari, ia tidak sanggup bertemu langsung dengan ibu itu. Ia pulang lagi. Ibunya dirumah melihat suatu perubahan dalam diri Dimas, ia tidak lagi marah-marah, ia pulang dan langsung masuk kamar, semuanya terasa sunyi, ketika mau makan, ia langsung mengambil dan masuk lagi ke kamar. Ia selalu pulang lebih awal dari waktu-waktu sebelumnya, biasanya ia pulang tengah malam. Ia masih diam membisu dan belum sanggup berkata apa-apa pada ibunya. Ingin rasanya ia menumpahkan rasa itu pada ibunya, tapi ia malu, ia malu mengingat perbuatannya selama ini. Akhirnya ia tetap diam membisu tapi ibunya sudah berpikir pasti ada sesuatu yang terjadi dengan anaknya.

Hari ke-5 ia memberanikan diri menemui ibu itu.

“Permisi Ibu, selamat siang, maaf bu, saya dimas bu temannya Fina, boleh saya masuk menemui Fina,  ibu?” dimas menyapa ibu itu.

“Oh nak dimas, hanya sendirian kesini, mana yang lain”, sahut ibu itu.

“Ia bu, saya aja yang inisiatif datang sendiri kesini, boleh saya melihat Fina bu”, “O, silahkan saja nak Dimas, tapi Fina mungkin masih belum bisa menjawab banyak pertanyaan”, jawab ibu itu. “Oh ya, g’ apa-apa bu”, sahutnya lirih.

Di dalam, dipandanginya remaja yang bernama Fina itu, terlihat keningnya agak lebam dan kakinya di perban. Ia terlihat sedang membaca sebuah buku. Si ibu yang tadi menghantarkan kedalam menyapa Fina.

“Fin, ada teman yang datang melihatmu”, sambil menunjuk Dimas yang segera muncul dibalik kaca yang agak samar-samar itu.

“Silahkan nak”, Ibu mempersilahkan sambil beranjak kebelakang dan duduk di kursi yang tersedia di dekat pintu tadi.

Fina sangat terkejut sekali, siapa laki-laki itu, ia belum pernah kenal sebelumnya. Tapi laki-laki itu tersenyum kepadanya, ibarat sudah kenal lama. Ia masih saja kebingungan, siapakah gerangan dia yang datang tiba-tiba. Ditengah kebingungan itu, laki-laki itu membuka pembicaraan.

“Saya Dimas mbak”, ujar dimas ragu-ragu karena tadi ia memperkenalkan dirinya sebagai temannya Fina. Ia ingin menceritakan siapa dirinya sebenarnya tapi bibirnya kelu dan hanya meninggalkan sebuah surat untuk dibaca oleh Fina. Setelah itu ia permisi dan membalikkan badan seraya melangkah dan tersenyum kepada ibu dan menghilang di balik tembok kamar itu.

Seketika Fina terkejut, begitu juga dengan ibunya, peristiwa aneh dan menemui orang yang aneh juga.

Segera dibukanya secarik kertas yang telah digenggam ditangannya itu. Di bacanya.

Salam Takzim wahai sahabat,

Saat kamu membaca surat ini, mungkin ekspresi pertamamu terkejut karena menemui hal yang aneh dan akupun mahfum dengan hal itu. Maaf berjuta maaf atas caraku ini. Aku tidak tahu cara mengungkapkannya seperti apa, semenjak kamu masuk kerumah sakit ini, aku selalu memperhatikanmu, memperhatikan ibumu, beliau menangis siang dan malam, berat bagiku untuk melupakan hal itu. Sungguh, entah kepada siapa rasa ini akan aku ungkapkan.

Sungguh aku malu, kalau bisa aku meminta, aku ingin kamu memukul kepalaku ini dengan tongkat yang besar karena dengan kebodohan kepala inilah yang menyebabkan kamu jadi begini, aku ingin kau menghajar tangan ini karena dengan tangan ini aku membelokkan motorku kerahmu. Sungguh rasa bersalah ini akan aku bawa seumur hidupku.

Maafkan aku yang baru sanggup kesini bukan untuk mengungkapkan langsung rasa penyesalanku tapi malah meninggalkan surat ini tanda ketidakjantananku menemuimu, ini hanyalah rasa malu ku yang begitu besar menyaksikan kesedihan ibumu yang begitu mendalam, aku tidak ingin membuat ibumu bertambah sedih melihat kenyataan orang yang dengan bodoh menabrakkan motornya kearah anak yang dicintainya adalah aku. Rasa bersalah yang teramat besarlah yang membuat aku tidak sanggup mengungkapkan secara langsung.

Duhai Fina, maafkanlah kesalahan aku, selama ini aku sadar diriku telah jauh melenceng dari jalan-Nya, sungguh ini teguran yang mendalam bagiku. Aku terima teguran itu. Andai aku dapat membalikkan semua kemasa lalu, aku tidak akan mau seperti ini fin, Inilah suatu ketidak dewasaan diriku.

Aku yakinkah padamu bahwa aku akan kembali dan langsung mengakui kesalahanku didepanmu dan ibumu. Sampaikan salam maafku teramat dalam untuk ibumu, untuk ibu yang luar biasa itu.

Dari orang yang lemah dan terhina

Dimas Satya Nugraha.

Selesai membaca surat itu, Fina terdiam sejenak dan tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata orang yang menabraknya itu dan temaram saat itu ia lihat mengantarkannya ke rumah sakit adalah dia, Dimas. Orang yang dulu di SLTP selalu menjadi saingannya saat lomba dan orang yang sangat ingin ia kalahkan. Ingatannya kembali tertarik ke permukaan dan tanpa sadar air matanya menetes. Diberikannya surat itu pada ibunya dan ibunya begitu marah membaca surat itu. Sementara Fina masih tersedu-sedu menenangkan ibunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s