Angin Fasifik di Tembok Besar Cina (7)

Dimas akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya pada ibunya. Seraya meraung dan menangis sangat dalam, minta maaf atas prilakunya selama ini. Ia tersadar ketika diceritakan tentang kehidupan Fina yang sama dengan dirinya tapi ia bisa jadi anak yang berbakti. Cerita dari ibu Kepsek waktu itu yang sangat menyentuh dirinya. Ia tidak sanggup menahan tangisnya dihadapan ibunya yang tercinta itu. Ibu yang sabar selama ini menghadapinya. Ibu yang dibawah kakinya terdapat kunci kesurga. Ia mencium ujung kaki ibunya dan minta maaf terdalam atas kedurhakaan selama ini. Ia minta maaf pada kakak dan adiknya. Semuanya bersyukur atas kejadian itu. Ibunya berinisiatif menemui Ibu Kepsek untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anaknya.

Beberapa hari kemudian, Ibu Kepsek datang sekaligus menceritakan bahwa Ibu Dimas dan Dimas yang menabraknya waktu itu sering menemui beliau dan dimas selalu menangis ketika menceritakan semua yang terjadi. Ternyata kehidupan Dimas tidak kalah sulitnya juga. Ia mengungkapkan rasa bersalahnya yang mendalam. Ibu Kepsekpun memintanya untuk memaafkan. Dimas berjanji akan berubah katanya. Ibu Fina yang tadinya sangat marah tersentuh juga dengan ceritanya.

“Sebentar lagi Dimas dan ibunya datang bu, sambutlah mereka dengan baik-baik”, Ibu guru tersenyum. “Baik, bu”, Ibu Fina menanggapi lirih.

Sore itu bertemulah kedua keluarga itu dan ternyata suasana kekeluargaan yang sangat kental menyeruak. Saling memaafkan dan bercanda, seolah-olah suasana itu terbangun begitu cepat. Ibu Dimas berjanji, beliaulah yang akan menanggung biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan selama ini. Syukur selalu terucap pada yang Maha Kuasa.

Beberapa hari kemudian, ternyata benar bahwa Fina tidak dapat mengikuti lomba itu karena ia masih dalam masa penyembuhan. Tapi Dimas dengan diam-diam berjuang mewujudkan cita-cita Fina itu.  Ia belajar keras, Dimas yang prestatif telah kembali. Empat bulan kemudian ia mengikuti lomba Fisika di Institut itu, alangkah takjubnya ia masuk dalam 5 besar dan berhak mewakili Indonesia ke Kazakstan. Capaian itu hanya disematkan semata kepada Fina, sahabat inspirasinya. Seiring dengan kemenangannya itu, sekolahnya akhirnya mendapatkan dana hibah pemerintah itu karena menurut mereka dengan prestasi Dimas itu, sekolah itu telah berprestasi. Hal yang lebih luar biasa lagi, akhirnya ayahnya kembali dan beliau bisa membuktikan kepada ibunya bahwa beliau di fitnah dan dijebak untuk mematikan karir kerjaannya. Bertambah senang dan membuncahlah hati Dimas.

Fina tersenyum melihat Dimas kembali menjadi Dimas yang sangat ingin dikalahkannya. Seraya ia berjanji dan mematrikan di dalam tekadnya akan ikut tahun depan dan mengalahkan Dimas.

*

Mentari pagi perlahan naik diatas kanvas langit yang membiru. Tepat setahun setelah kejadian itu, Dimas sekarang sekolah di salah satu SMA unggulan di Jakpus. Sementara Fina makin terasah kemampuannya berkat belajar giat selama setahun. Satu tekadnya menjadi juara nasional dan merebut emas Apho di Beijing,

Akhirnya tekadnya berbuah kebahagiaan, ia mampu mengalahkan Dimas, sementara dimas berada di tempat kedua. Merekapun berangkat ke Beijing.

Di sana, di negeri sejuta filsuf itu, mereka mengukir prestasi membanggakan setiap pasang mata, mereka merebut Emas di Apho dan mengharumkan Bangsa di tingkat dunia.

Dan sekarang, di Tembok keajaiban Cina dan dunia itu, ditemani hembusan angin Fasifik nan lembut, mereka saling bercerita dan mendeklarasikan persahabatan mereka. Salju halus itu mencatatkan deklarasi mereka sekaligus menambah decak kagum indahnya suasana hati selaras dengan pesona tembok besar Cina pagi itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s