Keny: Balada Si kecil Pengojek Payung

Hari ini kusempatkan juga untuk melihat-lihat berbagai macam alat elektronik di sentra elektronik bandung itu. Bandung Electronik Centre merupakan salah satu primadona bagi para pencari gadget terbaru, produk-produk buatan asing mulai dari HP hingga beranekaragam laptop. Tampaknya perjalanan hari ini sungguh menyingkapkan sebuah kesan bagiku tentang dia, tentang si kecil yang belumlah ku kenal, namun ia menyentuh hati, naluri dan perasaan ku hingga jari-jariku untuk sejenak berimajinasi dan menemukan sebuah cerita tentang Balada seorang anak kecil penjaja ojek payung.

“Payung kang, payung teh…payung pak…payung buk” Ujar si anak kecil di seberang jalan sana. Yah, hujan yang dari tadi mengguyur bumi Bandung membuat si kecil berwajah lusuh itu berkesempatan untuk menjajakan payungnya. Tubuhnya basah kuyup sedikit meringkuk, guratan wajahnya tidaklah seperti anak-anak sebayanya yang pernah kutemui sebelumnya. Wajah mungil itu menyiratkan keletihan dalam gigilannya yang semakin menjadi-jadi. Sementara guyuran hujan mesih terus tidak berhenti. Dia masih tetap memanggil-manggil calon pelanggan yang akan menggunakan jasa ojek payungnya. Bukan si kecil saja yang menjajakan payung, banyak anak-anak yang lain bahkan orang dewasa pun tidak mau kalah untuk mengais rezeki dari sewa payung ini. Namun dari sekian banyak itu, si kecil itulah yang paling menarik perhatianku.

Aku baru saja keluar dari pusat perbelanjaan elektronik itu. Setelah cukup lama menunggu hujan agar reda, belum juga nampak kemungkinan itu. Ku langkahkan kakiku menuruni tangga itu menuju suatu sisi di bawah sebelum menyeberang kesana, kearah si kecil. Keny, itulah panggilan yang kuberikan untuknya. Dari sekian banyak tukang ojek payung, dialah yang membuat mataku tidak bisa mengalihkan pandangan. Kenapa keny? Dia berbeda, dan paling unik darinya adalah, dia adalah tukang ojek payung yang paling kecil disana. Tangannya setengah tidak kuat untuk memegangi payung yang besarnya mungkin 1,5 kali tingginya. Aku masih tetap tidak bisa melepaskan pandanganku padanya. Dari sudut mataku, masih kulihat gigilan tubuhnya yang basah kuyup terkena desiran hujan sore itu.

“Payung kang….” Suaranya tampak kecil, kalah di bandingkan yang lain. Tapi ia tetap tidak menyerah, tetap matanya menggeliat kesana kemari menemukan sosok orang yang akan menyewakan payungnya. Ku beranjak beberapa meter kearah depannya, kuangkat tangan dan ia pun segera beranjak menjajakan payungnya padaku. Si Keny kecil, derapan langkahnya menyapu aspal yang dialiri hujan itu, raut wajahnya tidak berubah, tidak ada senyum semburat di pipinya, keletihan mungkin telah menghilangkan senyuman dipipinya, tapi aku tetap lemparkan senyum ku.

“Terimakasih ya, akang ke arah sana, ayo sini, payung bareng akang aja, ntar sakit lho”, Ku tawarkan ini padanya. Ia tetap diam tapi mau untuk memakai payung. Barulah aku tahu kalau si penjaja payung biasanya merelakan dirinya basah kuyup sambil mengantar pelanggannya ke tujuan. Hyuff, keny, si kecil yang belum boleh mengalami hal ini. Seharusnya saat ini dia sedang menunjuk tangan di kelas untuk melontarkan pertanyaan atau menjawab pertanyaan dari guru. Dia seharusnya saat ini sedang berpegangan tangan dengan teman-temanya, bermain petak umpet di halaman sekolah. Hari ini seharusnya dia mengikuti kelas bahasa Indonesia dan hari ini juga ia seharusnya duduk tenang di rumah untuk mengerjakan PR yang diberikan guru. Tapi Si Keny kecil, harus berjuang hidup demi seribu, dua ribu rupiah yang di kais untuk setiap pelanggan payungnya.

Tangannya digunakan untuk memegangi payung, petak umpet digantikan dengan keharusannya mengantar pelanggan, bahasa Indonesianya digantikan oleh bahasa diam sendu yang ada hanya gigilan semata dan siang yang harusnya ia sandarkan untuk bercengkrama dengan ibu dan ayahnya sembari mengerjakan PR harus dihentikan oleh kenyataan bahwa ia harus bergelimang hujan dijalan yang penuh bahaya. Si Keny, si tubuh kecil mungil yang tidak pantas dan tidak boleh berada dalam keadaan itu.

Hatiku langsung terenyuh, bibirkupun agak berat untuk sekedar bertanya padanya. Tatapan matanya letih, sayup, tiada binar dan ada perasaan meronta di batinnya. Namun apa dayanya, ia adalah anak orang tidak mampu, seribu ataupun dua ribu baginya layak untuk pengganti waktu belajarnya. Sungguh tidak setimpal bagiku. Ia tidak boleh seperti itu. Orang tuanya berkewajiban membahagiakan dia. Aku tidak habis pikir, kenapa ada orang tua yang seperti itu. Tega.

“Dimana tinggalnya dek?”, ku sempatkan bertanya. Lama ia akan menjawab.

“Disana Kang”, telunjuknya entah mengarah kemana, namun aku ekspresikan paham saja.

“Kelas berapa sekarang?”.

“Gak!”, Jawabnya singkat.

“Oooo”, aku diam sejenak.

“Udah makan belum”, aku Tanya lagi.

“Hmmhm, lum”. Lebih singkat lagi.

“Makan dulu yuk!”, ku ajak dia.

“Gak”. Dia tidak mau.

Langkah kakikupun terus menghujam aliran air hujan yang berlinang di aspal dan sebentar lagi akan sampai di tujuanku.

“Ayo, makan dulu sama akang yuk” Aku setengah memaksa.

“……”, tidak ada jawaban darinya.

Lalu ku genggam tangannya dan ku ajak masuk ke warung sunda yang ada di sebelah kiri toko buku itu. Ku minta dia duduk dan kuambilkan nasi untuknya, dan kamipun makan hingga sesaat kemudian hujanpun mulai reda meninggalkan rintikan-rintikan yang tak lagi deras.

Panjang ceritaku dengannya. Ku ajak dia tertawa. Dia anak yang lucu sekali. Namun yang membuatku miris adalah, keluarganya. Ia hanya tinggal di bantaran kali, di rumah kecil yang pengab dan bocor saat hujan mendera. Ibunya masih ada, cuma ayahnya tidak tahu kemana. Kisah sedihnya sungguh membuatku terharu. Ia ingin sekali seperti anak yang lain seusianya, yang disibukkan dengan agenda sekolah, ia ingin merasakan itu. Ia ingin memakai seragam merah putih dengan dasi mungil menggelayut dileher. Nyanyiannya adalah Indonesia Raya, bukan ratapan deru hujan dan kesedihan yang menggantung di tangannya. Ia ingin membaca, bukan menjadi seorang penjaja payung. Cerita nan mengisi ruang simpatiku. Tapi apalah dayaku. Aku tidak bisa membantu terlalu jauh.

Keny, hari ini engkau telah berbagi banyak cerita kepadaku. Tanganmu yang mungil itu belum lah pantas untuk mencari uang. Namun bakti mu pada orang tuamu melebihi apa yang mungkin bisa dilakukan oleh teman seusiamu yang lain. Keny, nadimu berbicara dan guratan wajahmu menyingkapkan rasa yang kuat untuk menjerit dan mengatakan aku ingin sekolah. Tapi jalanmu tidak semudah yang kau bayangkan.

Bersabarlah.

Ah, kata yang sangat berat untuk aku ucapkan. Ungkapan yang bagiku bagaikan berlepas tangan. Terus setelah dia bersabar, apakah bantuan itu akan datang, ataukah tiba-tiba ada orang yang sangat dermawan membantunya, atau lebih tidak mungkin lagi, apakah akan ada bantuan dari pemerintah. Ataukah yang aku takutkan, Keny akan tumbuh dewasa membawa beban yang terus memuncak di punggung kecilnya yang tak lagi lembut terkena goresan kehidupan. Keny yang lucu dan mungil suatu saat akan menjadi anak jalanan yang dekil dan peminta-minta.

“Oh, jangan, Ya Rabb. Engkau ciptakan manusia dengan berbagai rona dan kekayaan. Engkau memilih dan Engkau memberi pada orang yang Engkau kehendaki. Maka, berilah padanya kehidupan yang baik, sebaik mimpinya tentang indahnya hidup dalam kecukupan”Lirih ku pelan.

Keny, engkau adalah satu dari berjuta anak negeri ini yang meronta dan terasing dalam kemiskinan. Engkau satu dari berjuta anak negeri ini yang beroleh cerita tentang kehidupan yang semakin keras. Engkau adalah salah satu bintang diantara berjuta bintang mungil yang menghiasi halaman nestapa negeri ini. Keny, keny yang lain dan banyak keny lagi, disana kalian menelungkup dalam kesunyian malam dan dinginnya hembusan malam, berlalu lalang dijalan nan berasap debu.

Tangismu tak lagi garang, sudah menghujam kedalam dan yang terlihat hanyalah rona wajahmu yang semakin pilu. Inilah cerita anak negeri ini, anak-anak harapan bangsa yang harus menghadapi kenyataan pahit dan menikmati fatamorgana kehidupan indah yang semakin abstrak bagi mereka. Mereka terdampar, kedinginan, kehausan, lapar, letih dan belum sanggup memikul ini semua.

Dan bagiku, inilah yang menyentuhku, aku bukanlah siapa-siapa, tapi yakinlah suatu saat aku akan berada pada garis terdepan untuk memperjuangkan hak insan termulia yang diciptakan Allah dan hadir di dunia ini. Dengarkan lah balada anak negeri ini, bahwa mereka ada dan selalu membutuhkan uluran tangan kita. Jangan tunggu pemerintah, karena mereka memiliki balada hidup nan hitam kelam sendiri, dan yakinlah, bahwa ditangan anak-anak mungil itulah suatu saat nasib Negara ini ditentukan.

Salam terhangatku buat Keny-ku, Keny-Keny yang lainnya yang senantiasa berjuang demi hidup yang Insya Allah akan lebih baik. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s