Gojek

Gak pagi, siang, sore, ataupun malam, orang bermotor yang pakai jaket hijau, helm hijau, badan hijau #gakdeng pastilah familiar, dia adalah tralala trilili, cilup baaaa, gojek.

Fenomena gojek itu udah kayak durian, lagi musim. Dari anak muda, tukang ojek aski, kelas pekerja berdasi, ibu2, bapak2, semua yang ada disini #joged, kakek dan nenek2 #yangterakhirmungkin gak, hampir semua beralih atau nyambi jadi gojek. Sampai2 ni, klo buka aplikasinya, itu semua area ijooo, apa semua orang udah jadi gojek #tinggal gw doang yang penumpang.

Ya, gojek saat ini lagi jadi primadona, sampai yang daftar overload coba. Subhanallah, membuka lapangan kerja sekali ya.

Tapi, apakah itu benar, membuka lapangan kerja baru?

Faktanya, gojek telah berhasil merubah cara manusia jakarta bertransportasi dan cara pandang orang melihat profesi ojek. Tak jarang dan bahkan saya menyaksikan sendiri pengendara gojek berasal dari kalangan yang sudah mapan, pekerja kantoran tetap, dan bahkan wanita dengan jabatan sekretarispun berprofesi sebagai pengendara gojek dengan tagline “Nyambi”.

Apa efek dari hal ini, orang yang berprofesi sebagai tukang ojek asli tapi tidak mau ikut gojek dengan alasan yang bermacam2, merasa kalah saing dan timbulah efek sosial seperti larangan mengambil penumpang didaerah tertentu oleh gojek, jika masih nekat, bisa terjadi perkelahian. Hal ini nyata.

Selain itu efek gojek juga terasa bagi moda transportasi lain, seperti taxi, kopaja, bus bahkan tukang bajaj. Mereka kalah saing. Sehingga hal ini berpotensi menimbulkan percikan yang lebih luas.

Sebaiknyalah gojek mempertimbangkan untuk pengendara gojek harus lah asli tukang ojek, karena merekalah yang telah berdedikasi dengan profesi ini sejak lama, bukan para tukang ojek baru yang sekeder haji mumpung saja, memanfaatkan kesempatan yang ada.

Sekali lagi, teknologi membuktikan bahwa dia pisau bermata dua, sangat dualisme sekali efeknya, bisa sangat membantu, namun disisi lain juga bisa melemahkan.

Namun kalau saya disuruh bersikap, sejauh gojek mau merevisi proses rekruitment pengendaranya, masih bisa diterima, namun hal itu juga tetap ada dampak sosialnya. Tapi yang pasti saya sudah donlot aplikasinya, tapi gak pernah saya gunakan, karna mungkin bagi saya tukang ojek yang asli lebih saya hargai meskipun mahal, daripada orang yang sudah punya pendapatan tetap, namun masih memilih jalan ini.

Kesimpulannya masih 70:30 untuk tukang ojek yang asli ngojek

Sunny afternoon, gramedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s