Is that leadership?

Saya, sekarang sedang mengembangkan karir professional saya, dan dalam phase kedua dalam karir. Baru 2 bulan saya bekerja diperusahaan ini setelah dipercaya oleh CFO gruop of Company untuk memperbaiki kinerja laporan keuangan perusahan dan memperbaiki sistem yang ada. Saya sangat bersyukur sekali dan inilah salah satu pengalaman berharga bagi saya untuk meniti karir yang lebih luarbiasa lagi kedepannya. (Jembatan kali dititi)

Banyak PR yang harus saya selesaikan segera. Mulai dari proses pencatatannya hingga karakter individu didalamnya.

Dan yang lebih menantang adalah soal karakter individu didalamnya. Bagi saya, di team kecil saya yang hanya berjumlah 12 orang ini, terjadi drama sinetron ala ala bollywood lebay gimana gitu.

Dulu saya pernah belajar dari mentor leadership saya, Bapak Arif Munandar bahwa kita sebagai professional, harus bisa memisahkan mana ruang privat dan ruang publik. Jika kita mencampuradukkan keduanya, tak ayal, hal tersebut bisa menimbulkan konflik. Nah itulah yang terjadi diperusahaan ini. Ada konflik sederhana yang melibatkan 2 individu di team saya, tapi dampaknya kemana-mana. Sampai2 mereka tidak berkomunikasi hingga 6 bulan, terhitung sampai saat ini. Lalu kenapa hal tersebut dibiarkan saja?? #meyakinkan. Akhirnya kerjaan juga berdampak. Karena tidak bisa memisahkan profesional dan rasa.

Jadilah saya menggali informasi, dimulai dari senior staff saya, lalu staf yang tidak terlibat lainnya, setelah itu barulah saya menanyakan kepada dua orang ini. Kenapa oh kenapa? (FTV the series). Ternyata awalnya hanya guyonan aja, tapi kerena mungkin salah satunya waktu itu momentnya gak tepat, ditambah lagi karakter mereka yang sama2 tidak mau kalah dan ego tinggi, terjadilah drama bollywood hingga series 6. Dan apa yang terjadi sekarang salah seorangnya pun resign. Apa hikmah yang saya ambil, bahwa leader itu harus juga bisa bicara soal hati, berbicara dari hati kehati, sehingga konflik itu yang jika diselesaikan segera akan selesai, tapi karena dibiarkan maka sudah jadi daging dan akhirnya harus ada yang mengalah. Padahal jika sesama muslim tidak saling menyapa tiga hari saja, amalannya bisa tidak berkah, apalagi sampai 6 bulan. Saya menyesal karena saya sudah ada pada saat itu, tapi tidak dapat memperbaikinya #pelajaran. Tapi tekad saya, mereka tetap harus saling memaafkan. Itu akan tetap saya perjuangkan.

Itukah leadership?, bagi saya itu pelajaran berharga dan mulai mewanti2 dari sekarang kepada team bahwa komunikasi harus dalam kadarnya, jangan berlebihan, terutama soal bercandaan. #bijak.

Akhirnya leadership adalah perkara humanity, perkara manuasia, perkara memimpin hubungan interpersonal, dan berbicara tentang manusia adalah tentang fungsi ketidakteraturan matematis, tidak saklek, tidak ada pakem, karena individu diciptakan unik dan berbeda. Dan mengelola individu lebih mengayakan jiwa soal rasa, soal perasa dan soal hati.

Dan berbicara hati, hati lagi mencari dan menanti. #teteup

Sunday green, at morning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s