Teduh

Bahwa dalam setiap detik kehidupan, akan selalu ada makna, tersurat dan tersirat. Bahwa setiap detiknya ada interaksi, harmoni, nada, not, keyboard…alah…

Bahwa pelajaran itu bisa kita dapat dari siapapun…dimanapun dan kapanpun, serta dengan kombinasi pun yang lainnya.

Saya sangat bersyukur setelah menemukan tempat kontribusi baru, disana, ditempat ini, pelajaran hidup yang diberikan orang-orang ini sungguh membuat saya terpana. Alhamdullilah dengan posisi yang dipercaya kepada saya saat ini, memberikan hikmah luar biasa. Orang-orang ini yang membuat saya terkagum, bahwa nilai syukur yang diterapkan itu ada nyata di mereka. Saya belajar dari mereka, sederhana, gembira dan nilai positif lainnya ada di mereka.

Pertama, nama beliau adalah Pak Basuki, umur beliau sekitar 40 tahunan. Beliau adalah messenger di departemen yang saya pimpin. Setiap hari rutinitas beliau adalah mengantarkan surat menyurat. Wajahnya ceria, dan senyum selalu mengambang dipipinya. Pernah sekali saya mengajak makan bersama. Disanalah beliau cerita tentang pekerjaan beliau, tentang cita-cita dan peluang. Tak lama ini, ada peluang beliau untuk menduduki posisi admin. Ada 2 kandidat, salah satunya beliau, dan satu lagi adalah anak muda. Saya memutuskan dengan segala pertimbangan bahwa beliau tidak sanggup menempati posisi tersebut. Beliau bilang bahwa jika diberikan kesempatan, beliau akan belajar. Namun melihat kondisi sekarang, dan kemampuan beliau akan sangat lama untuk berujar bisa, dan memang posisi ini sangat butuh orang yang siap. Saya mengutarakan hal itu, beliau hanya terdiam. Tapi setelah itu, beliau berujar, mungkin benar kata istri saya, kalau saya ditempati disitu, saya malah bisa beban sendiri, lebih baik jalanin dengan suka apa yang sekarang diemban, rezeki udah ada yang ngatur. Ah, saya merasa iri dengan keluarga ini, dengan bapak ini. Merasa cukup dengan yang ada. Tak muluk-muluk, saya senyap sebentar, mata sedikit berair. Bapak ini telah lama bekerja disini, letih dan penat pasti, menelusuri jalan, tapi beliau tetap teguh, bahwa rezeki istri dan anak ada di beliau. Beliau harus tetap tabah. Bapak ini, yang selalu datang lebih pagi dari saya, bapak ini yang jarang bercerita, karena ceritanya lewat kerja, adalah contoh nyata bagi saya untuk berujar syukur pada Allah, yang telah menentukan segalanya. Semoga beliau selalu sehat dan terjaga dalam iman.

Yang kedua adalah bapak fuad, umur beliau mungkin sudah 50an. Tapi semangat kerja dan keceriannya yang membuat beliau tampak muda. Beliau adalah housekeeping dikantor saya. Pagi sekali waktu itu, saya datang dan beliau masuk untuk membersihkan ruangan saya. Disanalah, saya yang orangnya suka nanya, memulai pembicaraan. Tema waktu itu adalah soal kopi. Beliau nanya, apakah saya suka kopi?. Saya nggak suka pak, saya nggak ngerokok dan gak ngopi. Mungkin teh saya lebih suka, tapi saya lebih suka sekali air putih. Oh bapak suka teh, teh sekarang juga gak sehat loh pak, kalau kita minum, pasti teh itu ada sisa. Kalau kita mau mastiin sehat, pakai jeruk aja bersihin pak, ketahuan tu bersih atau gak teh nya. Kalau dia langsung bersih, berarti sehat, tapi klo tehnya masih nempel, berarti ada zatnya juga tu pak. Saya: o gitu pak, saya jawab, karena saya tidak begitu tau sebenarnya. Sembari beliau terus menyapu, bercakap tetap lanjut. Di lain waktu, beliau yang suaranya terancam merdu ini, memang benar2 menikmati apa yang beliau kerjakan. Selalu nyanyi dan nyanyi, tidak ada gelisah, dan beliau tau banyak hal, meskipun pekerjaan beliau tidak menuntut beliau untuk banyak tahu. Tapi beliau menstandar tinggikan diri beliau. Dan hadirnya beliau penuh dengan lelucon. Menyenangkan jika mengobrol dengan beliau. Lagi, bapak yang menyukai pekerjaan, rendah hati, penuh ceria, semua jadi ringan, makasih pak fu.

Dan terakhir adalah pak nana nama beliau. Usianya juga sudah lebih dari 50. Tapi keceriannya tidak terkira. Beliau juga messenger, beliau bekerja untuk menagih pembayaran pada customer. Pekerjaan yang sangat berdekatan dengan konflik. Tapi bisa dijamin, bapak ini punya faktor x yang orang tidak akan mau untuk marah. Itulah hal pertama yang saya rasakan ketika pertama kali masuk di kantor ini. Gimana mau marah, jika bertemu dengan bapak yang penuh senyum, khas sunda, duh orang sunda, emang bikin adem euy. Pernah beliau cerita bahwa, beliau menikmati pekerjaan beliau, bahkan teman2 masa muda beliau udah banyak yang sukses, beliau malah bilang, saya gak terlalu mengejar jabatan. Yang penting mah kita nyaman dengan apa yang kita lakukan. Dan saya melihat sendiri, keberkahan dari rezki yang beliau punya, sekarang beliau sudah punya 2 orang cucu. Subhanallah. Ah, banyak sekali pelajaran hidup dari bapak yang satu ini.

Bahwa hidup itu harus dinikmati, hidup itu jangan dibawa beban, selalu ceria, bernyanyilah untuk hidup, mensyukuri apa yang ada, selalu merasa cukup. Ahai, mereka cukup menghukum saya dengan kepribadian yang mereka miliki.

Terimakasih bapak-bapakku. Ya, mereka lebih cocok jadi bapak saya. Teruslah mengajarkan saya untuk hidup lebih bermakna. Untuk hidup lebih ceria. Dalam hidup yang semakin menguras tenaga. Dalam suasana yang semakin hangat, penat dan lelah. Dan adanya bapak2 ini, membuat suasana menjadi teduh, seteduh teduhnya.

Dan bicara soal teduh, setengah hati saya perlu tempat berteduh…teteup

A half september, night of breezing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s