5 falsafah sebatang pensil ~ Josef Bataona

Taken from http://www.josefbataona.com (dengan ubahan seperlunya)

“What we leave behind is not what is engraved in stone monuments, but what is woven into the lives of others” (Pericles)

BARANG yang sederhana, tapi terkadang sering luput dari perhatian kita. Apalagi itu merupakan barang murah yang setiap hari kita pakai: sebuah Pensil.

Tulisan ini bersumber dari bukunya Paulo Coelho yang berjudul“Like the Flowing River”.

Seorang anak sedang mengamati neneknya yang sedang menulis surat. Dia bertanya:
“Apakah nenek sedang menulis cerita tentang kita? Cerita tentang saya?”

Nenek itu berhenti menulis surat dan menjawab pertanyaan cucunya.
“Saya menulis tentang engkau, cucuku. Tapi yang lebih penting adalah pensil yang sedang saya gunakan. Semoga engkau menyukai pensil ini ketika sudah dewasa.”

Dengan ekspresi ingin tahu, sambil mengamati pensil itu, anak itu menemukan bahwa pensil itu biasa saja, karena itu di bertanya:
“Tapi ini pensil biasa saja, seperti halnya pensil lain yang pernah saya lihat!”

“Ini tergantung darimana cucuku melihatnya,” ujar neneknya, sambil meneruskan, “Pensil ini memiliki lima karakteristik, yang kalau engkau terapkan, akan membuatmu menjadi pribadi yang damai dalam hidup ini. Yakni:

• Pertama: Pensil ini bisa menciptakan gambar yang bagus atau tulisan yang memberi inspirasi, tapi ada tangan yang menuntun pensil itu untuk bisa menghasilkan karya yang hebat tersebut. Begitu juga untuk karya-karyamu yang hebat nanti, jangan lupa bahwa ada tangan yang menuntunmu, tangan Tuhan. Karena itu jangan lupa untuk selalu mensyukurinya.

• Kedua: Sesewaktu saya berhenti menulis dan meruncing pensil. Seandainya pensil ini punya perasaan, ini akan membuatnya menderita sejenak tapi sesudahnya akan semakin tajam dan terus memberikan hasil karya terbaik. Engkau pun harus belajar mengalami sakit, penderitaan, jatuh, namun engkau harus bangkit lagi demi mendapat suatu hasil yang lebih baik.

• Ketiga: Pensil juga membolehkan kita menggunakan penghapus di ujung satunya, untuk menghapus semua kesalahan yang sudah kita lakukan. Ini merupakan kesempatan kita mengakui bahwa ada yang sedang kita kerjakan ternyata salah, tidak bagus dan harus dihapus dan dikoreksi. Dalam kehidupan ini, sering kita melakukan kesalahan karena itu mengakui kesalahan dan berusaha mengoreksi kesalahan bukan merupakan hal yang buruk untuk dilakukan.

• Keempat: Yang penting dari pensil itu bukan kayu yang membalutnya, tapi kualitas graphite di dalamnya. Kita sering sekali hanya mementingkan tampilan luar, tetapi tidak sejalan dengan yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Adalah penting sekali untuk memiliki karakter yang positif, yang akan mempengaruhi seluruh hidupmu.

• Kelima: Pensil itu akan meninggalkan bekas. Artinya, apa pun yang engkau lakukan di dunia ini akan meninggalkan kesan yang membekas di hati orang-orang yang engkau kenal. Karena itu, setiap langkah perbuatanmu harus dirancang sedemikian rupa sehingga akan menjadikanmu pribadi yang mempunyai manfaat positif di mata sesama, dan inilah yang akan selalu di kenang setelah engkau tidak ada lagi.

Kiranya kisah pensil ini bisa kita renungkan agar setiap langkah kita senantiasa memberikan manfaat maksimum bagi banyak orang. Dan pesan Charles Swindoll:

“Each day of our lives we make deposits in the memory banks of our children

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s