Urang Awak

Kalau berbicara tentang orang minang (lebih familiar dengan sebutan orang padang, padahal padang itu sebenarnya ibukotanya Sumatera Barat, tapi dia telah mengalami majas metonimia, diasumsikan padang sudah mewakili orang minang. Saya yang dari sebuah desa ekowisata, kira2 sebelas kilometer dari Kota indah Bukittinggi, dimana2 juga memperkenalkan diri sebagai orang padang, sempat bilang dari bukittingi dulunya, tapi ada juga yang gak tau, whatsss? Sebenarnya kita belajar sejarah dan geografi dimana sih?) banyak hal yang terasosiasi. Orang minang bisa diasosiasikan sebagai perantau, pedagang, tukang foto kopi, rumah makan padang, intinya wirausaha dan sebagian kecil saja yang mungkin bekerja sebagai pegawai seperti saya.

Ya, kadang sedikit merasa menyalahi garis tabiat orang padang yang sukanya dagang. Tapi jika memiliki karir yang baik, tidak salahnya mencoba, untuk sekedar menyiapkan kuda kuda berpindah haluan menjadi wirausaha.

Mungkin DNA dagang itu jugalah yang mengalir dalam kromosom saya, orang tua yang seorang wiraswasta, pedagang pakaian, sudah banyak sekali menggelitik alam bawah pikiran saya, untuk segera hijrah. Itu jualah yang sering mengusik pikiran belakangan ini.

Bukan apa2, alhamdulillah, punya teman yang pernah seasrama di PPSDMS dulu, telah melangkah begitu pesat dalam bisnisnya. Ada Gibran dari Bio 07 ITB, Gesa 06 FTTM ITB dan Ihsan 07 Mgt Unpad, dan beberapa teman lainnya, sudah sangat terkenal seantero jagat entrepreneur baik lokal dan international. Mereka berhasil menjadi sukses karena passion mereka disitu.

Dulu, sewaktu ada materi tentang pembagain future plan hidup pada salah satu agenda training PPSDMS Nurul Fikri, kita diberikan sekitar 4 wajihah kontribusi dimasa depan, yaitu professional karir, pemerintahan dan dewan, entrepreneur dan akademisi, serta ulama. Dan dengan tegas saya memilih sebagai professional karir, karena saya ingin mencontek Emirsyah Satar, Handry Satriago dan Syafril Hendra, orang minang yang sukses memimpin perusahan multibillioner.

Pun ketika lulus di 2011, langsung terjun ke perusahaan multinational di bidang audit dan sekarang diberikan amanah untuk memimpin divisi accounting dan tax di 2 perusahan sekaligus. Ya, kembali, pilihan saya untuk meniti karir professional, sejauh ini masih dalam jalur yang benar.

Namun panggilan jiwa orang awak kembali memanas manasi. Panggilan jiwa untuk berbisnis yang katanya, 9 dari 10 sumber rezeki ada disitu. Itulah yang sering merisaukan.

Karena kadang, jika karir professional itu, kontribusi terasa hanya pada lingkup perusahaan, beda halnya dengan pengusaha. Mereka bebas berkarya kapanpun, dimanapun, untuk siapapun, magnitude nya besar.

Berkarir secara professional merupakan pilihan yang baik disertai dengan kombinasi jiwa pengusaha, mungkin bisa menjadi modal dasar untuk nanti siap berkontribusi di dunia wirausaha

Sekarang panggilan jiwa untuk berwirausahapun sudah makin menjadi2 hasil dari impuls teman2 seperjuangan beasiswa dulu.

Bangga menjadi orang awak, semoga bisa menebar manfaat yang lebih luas lagi, yang sampai saat ini cakupannya masih dalam lingkup keluarga. Insya Allah.

Disebuah malam, 26 menit menuju midnite.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s