Ritme

Setiap kebiasaan itu pasti ada hikmah yang bisa kita ambil,

Mungkin kita semua sudah tau, tapi mungkin sekedar mengingatkan…

Baru sebulan ini rutin lagi berolahraga meskipun sabtu minggu, sudah mendekati 4 tahun tidak berolahraga lari, padahal waktu muda dulu (dibaca mahasiswa), hampir tiap hari lari pagi didepan monumen Gazibu Bandung. Ya, olahraga akan mencerahkan raut muka, menjadi lebih awet muda, itu dulu, klo sekarang mungkin ditambah alasannya karena ingin mengurangi bobot perut yang udah offside kedepan. Karena untuk persiapan menjemput bidadari surga, cie elah…

Kalau dibilang mengenai kekuatan fisik maraton, memang sudah tidak sekuat dulu, ayunan langkah yang berat, ditambah bobot tubuh yang lumayan, merupakan kombinasi yang cukup baik untuk menghentikan lari walau baru beberapa langkah kaki saja.

Ingatan pun flashback ke belakang, diwaktu 2007 hingga 2011 menuntut ilmu di universitas yang saya cintai itu, olahraga pagi ibarat makanan sehari hari. Serutin makan gorengan dulu sewaktu menjadi mahasiswa kere untuk mengganjal perut, haha, jleb.

Lapangan gazibu adalah ruas taman dimulai dari depan monumen perjuangan hingga depan lapangan telkom, itulah yang dulu saya kelilingi. Awalnya cuma sanggup 3 kali putaran, udah ngos2an, langsung angkat tangan untuk pitstop. Emang sudah sanggupnya segitu. Tapi lama kelamaan, akhirnya bisa sampai 8 kali putaran, ya berkat tempaan tiap hari. Tapi akhirnya saya bisa mencapai 12 kali, padahal emang fisik sudah memang habis.

Lalu flashback itu ditarik kemasa sekarang. Saya yang baru memulai lagi untuk berlari pagi, dihadapkan pada hal yang sama, sewaktu dulu, masa mahasiswa. Capek, baru beberapa langkah sudah lelah dan berhenti, sisanya jalan aja. Tapi pagi ini berbeda, saya berlari mengikuti rombongan taruna sepertinya, masih muda, tubuh proporsional, saya mengikuti mereka dan ternyata saya bisa. Dan pada batas fisik sudah memang tidak kuat lagi, saya berhenti, daripada pingsan kan. Setelah itu, saya melanjutkan lari, awalnya sudah benar2 nyerah, tapi saya terus melihat fly over diujung sana, didalam hati saya bergumam, ok, gw harus melewati flyover, dan jaraknya jauh, biasanya saya berhenti nih capek, tapi pikiran saya bilang, No, kamu harus lanjut, masih bisa. Dan apa yang terjadi, saya bisa melewati, bahkan bisa melewati jauh dari flyover tersebut.

Apa yang bisa saya ambil pelajaran untuk refleksi kita mencapai impian,

Pertama, dalam berlari kita mengenal namanya ritme, yaitu berlari dengan frekuensi yng konstan, besar langkah dan kecepatan, sehingga ritme itu mempengaruhi kecepatan kita bernafas, jika nafas teratur, artinya proses pembakaran ditubuh juga akan teratur, dan mengurangi asam lelah tubuh yang selama ini menjadi penyebab kita cepat lelah. Ya, itulah hikmah pertama, kita tidak perlu melonjak2 dalam berusaha memperbaiki diri ataupun memperjuangkan mimpi, karena kita akan cepat lelah trus berhenti dan blamming, kita hanya butuh disiplin terhadap hal kecil, amalan2 sederhana, pembelajaran bertahap, ibarat mengatur pernapasan, karena hal kecil dan sederhana tapi disiplin itulah yang membuat kita bisa berlari jauh mengejar cita-cita. Jangan jadi orang yang meledak2, seketika semangat, seketika pudar, seperti berlari kencang diawal, setelah itu ngos2an, dan berhenti jalan kaki. Dan disaat itulah orang lain akan memotong jalan kita, karena mereka punya ritme. Ritme yang menjaga fisik mereka untuk berlari hingga garis finish. Buatlah rutinitas yang ujungnya kita tau bahwa rutiniatas itu akan menghantarkan kita ke garis finish lebih awal dari orang lain.

Kedua, mengikuti rombongan yang memiliki ritme. Ya, dalam berjuang, kita perlu kelompok, perlu sahabat, teman perjuangan yang memiliki semangat dan tujuan yang sama. Karena meskipun mereka tidak menasehati kita secara langsung, tapi kita bisa meniru mereka, kita bisa belajar dari gerak gerik mereka. Seperti maraton tadi, kalau saya tidak mengikuti kelompok taruna tadi mungkin saja saya tidak akan bisa berlari sejauh pagi ini, yang biasanya cuma seperempatnya saja. Itulah gunannya rombongan, itulah gunanya kelompok2, majelis2 ilmu yang membantu kita berjuang melawan kelemahan diri sendiri. Pada akhirnya kita sadar, iya ya, saya bisa.

Ketiga, kekuatan pikiran. Karena pikiran yang mengendalikan fisik, pikiran adalah pengemudi, dialah yang memberikan perintah untuk fisik bisa terus bergerak meskipun letih. Itu jugalah yang membuat saya dulu bisa berlari dengan fisik yang ditempa bisa 8 keliling, tapi ditambah kekuatan pikiran, maka jadilah saya bisa mencapai 12 keliling. 4 putaran adalah kekuatan pikiran. Subhanallah bukan, pikiran bisa memerintahkan fisik yang sudah sangat lelah untuk terus bergerak, terus dan terus. Begitu juga dengan pikiran saya yang menghendaki saya untuk berlari melewati fly over. Pikiran saya bisa, saya siksa fisik saya untuk terus, karena fisik saya bisa pulih lagi, tapi kalau pikiran, benar2 harus dibuat agar punya cita2 dan capaian. Begitulah juga dalam menggapai impian, perlu mimpi, dan doa, agar kemampuan yang ada bisa membantu mencapai mimpi itu meskipun kekuatan kita tidak seberapa. Jagat raya akan berkonspirasi untuk mewujudkan mimpi kita. Jangan lupa untuk menjaga impian yang suatu saat Insya Allah terwujud.

*menjelang azan magrib, menunggu panggilan-Nya

*pun ini untuk kamu, ya kamu, yang sering mengunjungi blog ini, semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s