Paginya di shangrila

Diliriknya ujung sudut sawah yang belum dicangkul itu. Tanahnya agak keras, karena memang belakangan ini, air seperti surut tiba tiba, mata air hanya mengalir sedikit, dan hujan pun seperti enggan untuk merintikkan nadanya, membasahi bumi yang semakin sendu.

Memang, diwaktu luangnya, disela waktu sekolah, dia selalu membantu orang tuanya. Orang tua satu satunya yang dipunya, karena ayah sudah dulu di panggil oleh-Nya. Pergi kesawah yang beberapa minggu yang lalu selesai di panen. Dan minggu ini, sudah mulai lagi persiapan untuk menanam lagi. Karena mingu lalu dia sudah mulai menyemai benih, dan harusnya benih yang disemai tadi sudah muncul daunnya keatas. Benih padi yang semakin menghijau itu harus segera ditanam agar tidak lapuk.

Itulah sekelumit kisah masa kecilnya, masa sebelum dia melanjutkan kuliah dulu, masa dia bisa bersama dengan bunda tercinta tiap waktunya. Sekarang dia telah melanglang buana, meresapi perjalanan sebuah benih, ibarat menyelami perjalanan hidupnya, banyak suka tapi tak kalah pun dengan duka.

Sekarang, di tepian shangrila, dia memandang jauh bukit nan hijau disana, ingatan akan ibunda dikampung sekelabat menghinggapi. Duh, time flies so fast, kemaren masih menikmata baju seragam abu abu, baju seragam putih dongker, dan baju seragam putih merah. Baru kemaren juga kayaknya dia ikut lomba IPS setingkat kabupaten agam, kala dia SD dulu, setelah itu, jejak jejak prestasi pun terukir.

Tapi suara ibunda tetap tak lepas dari telinganya. Dia cuma punya waktu lebaran Idul Fitri saja untuk bertemu Ibunda. Waktu yang singkat. Dan dia pun melalui gagang telfon diujung sana, mendengar suara Ibu yang mengatakan *Nak, carilah jodoh orang minang juga, agar kamu bisa pulang kampung*. Sejenak dia tertegun, ditemani secangkir teh hangat, dan sepoi angin pagi lembut di anjungan shangrila itu, pikirannya mengaminkan. Pun dia merenung, jodoh sudah ada yang ngatur, mari berikhtiar.

Dan sepertinya, ia harus pulang kampung segera, untuk melihat sawah sawahnya yang dulu, sawah yang selalu mengingatkan tentang kerendahan hati, kerja keras dan cinta pada apa yang dikerjakan. Tampaknya pagi shangrila, mengabarkan sebuah cerita, dia harus segera bertemu, dengan Ibunda yang pertama, lalu jodohnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s