Si kecil diantara malam

Pulang kerja karena belakangan lembur, mengharuskan dia untuk menggunakan transportasi ojek. Malam yang seharusnya lebih dingin, tapi bagi Jakarta hal ini tentu berbeda, hangat mungkin kata yang lebih tepat.

Tapi hal itu bukanlah topik. Yang menjadi pembicaraannya adalah ketika dia melewati jalan setapak di belakang pasar itu dia sering berpapasan dengan si kecil, anak jalanan lalu lalang diantara malam, dibenderang lampu yang semakin terang, menembus kegelapan.

Malam itu dia bertemu dengan anak jalanan dengan karung goni besar ditenteng dibelakangnya, tubuhnya kurus ceking, raut mukanya menggambarkan kelusuhan yang menjadi jadi, berjalan dengan gontai, sambil meliarkan matanya, untuk mencari sampah botol. Umurnya mungkin belum mencapai 6 tahun, tapi beban hidupnya tentu bisa ditebak. Si kecil yang harusnya waktu malamnya diisi dengan belajar, dibawah redup lampu belajar ataupun tidur dalam dekapan orang tua dan kecupan untuk selamat tidur. Tapi semburat itu pecah dengan kenyataan malamnya yang ditemani hanya dengan kesenduan, keletihan untuk menjalani kehidupan malam jakarta yang penuh bahaya.

Dan diapun bertanya apakah dia tidak sekolah, sikecil menjawab dengan tatapan tak memandang arah bicara, iya tenggelam dalam jawaban nggak, menunduk kebawah, seolah lelah mengangkat dagu, untuk menantang dunia yang keras, karena kehidupan kecilnya tidak disiapkan untuk menghadapi hidup dimasa depan. Iapun takut, sikecil ini akan menjadi anak kecil yang berontak diwaktu dewasanya.

Pun ditempat lain, ada sikecil yang tertidur pulas didepan emperan toko, tertidur beralaskan lipatan spanduk kecil, yang tidak menghilangkan kerasnya lantai, dengan bantal bekas yang sedikit menghitam. Disisi lain tampak ayahnya sedang mengais sampah, mencari barang bekas yang masih bisa dijual. Si kecil inipun kurus, tapi tidurnya masih nyenyak, senyenyak orang orang kaya diluar sana tidur diatas springbed dan semua harta melimpah.

Tapi disudut temaram, dibelahan bumi lain, ternyata ada sikecil malam yang pulas tidurnya, karena ditemani ayah yang tidak kalah semangatnya menantang dunia.

Fragmen anak jalanan diantara malam, memunculkan banyak cerita. Cerita tentang perjuangan melawan usia. Mencari penghidupan.

Bahwa Allah telah menentukan rezeki hamba-Nya, tentu ya. Tapi dengan berdiam diri, tidak ikut memperjuangkan masa depan mereka, ini akan menjadi masalah akut, kronis, dan stadium akhir dari suatu penyakit mental karena tempaan hidup jalanan yang berat dan ganas.

Oleh karenanya, bantuan2 lembaga amal seperti rumah zakat indonesia, dompet dhuafa, aksi cepat tanggap dan berbagai lembaga pengumpul dana lainnya adalah sangat dibutuhkan untuk mengusahakan hal ini. Kita tidak perlu mengharapkan pemerintah yang penuh pencitraan tapi miskin kerja dan implementasi. Masalah ini harus benar2 dibuat solusinya, harus sekarang, saat ini juga, bahkan ini sama urgentnya dengan masalah kabut asap yang menimpa Indonesia, ataupun masalah palestina yang diserang israel.

Hal ini penting wahai kawan, karena yang kita lawan adalah kabut asap mental, penjajah mental dan tahukah anak jalanan yang tumbuh besar nanti akan melahirkan potensi anak jalanan yang lebih banyak lagi dengan masalah yang lebih rupa rupa lagi?.

Memang sebijaknya kita memutus mata rantai orang tua yang tidak bertanggung jawab, melahirkan anak, tapi tidak diusahakan. Jadilah mereka terdampar dijalanan malam. Ya, itu harus dimasukkan dalam satu program paket pengentasan mental anak jalanan.

Tapi program yang satu ini urgen dan mendesak, tidak boleh tidak, anak jalanan yang sudah terlanjur jadi anak jalanan, atau anak yang akan menjadi anak jalanan, harus segera dibenahi, dibangun spot2 pembinaan, didekatkan dengan agama. Subhanallah, program ini akan benar2 bisa menjadi oase ditengah kekeringan program sejenis.

Dengan bantuan lembaga amal, mudah2an ini bisa dicarikan solusinya.

Karena percayalah, anak jalanan ini sungguh akan jadi bom waktu dan memunculkan generasi anak jalanan sendiri ditengah demograsi masyarakat Indonesia lainnya.

Yuklah, lembaga amal, buktikan program mu yang lebih membumi.

*pagi mengenai malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s