Tanah ulayat

Liberalisme dan kapitalisme yang makin mencengkram, yang mengedepankan keserakahan dan pemujaan berlebihan akan kekayaan, menyebabkan sagregasi antara miskin dan kaya semakin melebar, dan terkesan, kesenjangan tersebut dibiarkan terus menerus hingga meruncing.

Fakta bahwa sekitar 70% orang kaya diindonesia yang hanya 0.2% dari populasi dan diisi mostly oleh orang nonpribumi, membuat sebagian besar rakyat Indonesia hanya bisa mengaminkan.

Bahwa pemerintah harus menjadi sarana untuk mensejahterakan rakyat, sebagaimana undang undang dasar menyatakan, tidaklah seperti itu adanya, pemerintah terbelenggu dengan orang2nya sendiri yang diisi oleh manusia Indonesia yang berpikir pasar bebas, globalisasi, kapitalis. Ibarat kata, orang Indonesia masih belum bisa berenang, karena untuk ngejar yang lain, maka kita nyeburin diri, ya kelelep.

Kita dengan gagah mengaminkan semua perjanjian pasar bebas dan beberapa derivasinya,termasuk yang terbaru adalah MEA, namun kita tidak punya senjata, kita tidak punya peluru yang banyak apalagi canggih untuk menghadang senjata negara lain yang rupa2.

Sedih kita, proteksi terhadap rakyat miskin yang begitu banyak di Indonesia sama sekali minim.

Keserakahan dan cinta dunia telah mengaburkan sebagian mata para pemimpin ini sehingga kurang peka dan terkesan tuli.

Nah suatu kebanggaan adalah, didaerah saya tercinta, kapitalisme dan keserakahan ini seolah menemui tembok besar, yaitu kultur dan adat.

Masyarakat minang teguh memegang adat yang merupakan hasil cita rasa nenek moyang terdahulu.

Kita sendiri paham betul bahwa kapitalisme dan keserakahan itu dimulai dengan diakuisisinya tanah. Dimana2 orang berbisnis dan mengembangkan sayapnya, serta memulai keserakahannya karena tanah. Berapa luasan tanah di negara ini yang dikonversi menjadi kebun dan lahan tambang, sungguh luas, bagaimana tanah kalimantan, sumut, jambi, palembang, riau, dikuasai oleh pebisnis sawit, yang dengannya hanya mampu menghidupi kecil sekali masyarakat dan bahkan jauh dari kesan sejahtera.

Diminang, hal inilah yang diproteksi oleh adat, bahwa tanah itu ada pusaka tinggi dan pusaka rendah. Pusaka tinggi adalah milik suku turun temurun, yang hanya boleh digadaikan bukan dijual dengan 4 syarat, batagak penghulu, maik tabujua ateh rumah, gadih gadang indak balaki, dan rumah gadang katirisan. Ingat inipun hanya digadaikan, bukan dijual. Sementara harta pusaka rendah adalah harta yang didapat dengan hasil usaha sendiri dan diwariskan dengan skema faraidh,  aturan Islam.

Dan tanah pusaka tinggi inilah yang hampir melingkupi semua tanah di minang. Sehingga tidak ada yang bisa dijual. Karena pemahaman inilah, kapitalisme agak tersendat tajinya di bumi minang indah permai.

Proteksi secara tidak langsung inilah yang membuat risih para serakah dunia. Dan sekarang mereka sedang bergerilya untuk menemui celah agar bisa menancapkan taringnya di minang. Namun kewaspadaan juga harus segera ditingkatkan, mengingat kaum muda minang yang semakin kurang bersentuhan dengan adat, hal ini bisa mengancam keberadaan adat dan tanah ulayat sendiri, untuk beberapa dekade kedepan. Apalagi, banyak putra daerah yang merantau ke negeri orang, yang rata2 adalah pemuda yang pintarnya, akhirnya tinggallah pemuda yang biasa2 saja, yang berpikir pendek. Hal inilah yang kita takutkan.

Jadi, tanah ulayat ini harus menjadi sarana bagi kita untuk membatasi kapitalisme, kalau tidak mau negri indah ini terkoyak seperti negeri lain.

Untuk koreksi, kita juga harus menyiapkan diri agar bisa bersaing, berjiwa bisnis, karena semuanya terjadi karena kita juga kurang kapasitas untuk menjadi orang kaya.

Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s