Sajak hujan

Pagi ini hujan menderu ke tanah2 jakarta yang tampak gersang dan pelak, pagi inipun menyaksikan cerita seorang kakek tua, yang tubuhnya ringkih, tapi masih berjuang dalam hidup, menaiki kopaja 66 yang setiap hari saya gunakan untuk berangkat dan pulang dari kantor.

Awalnya saya tidak menyadari ada kakek itu, saya baru ngeh ketika kakek menanyakan sudah sampai pasar apa gitu, nah si kenek menjawab bentar lagi pak. Kelihatan kakek ini tidak apal jalan. Setiba di depan epicentrum, si kenek memberhentikan mobil, disini pak, katanya. Baru kakek itu turun dan baru saya sadar ada kakek itu dibelakang, dan dia membawa 2 keranjang jualan yang entah apa. Untuk mengangkat satu keranjang saja dia sudah sangat kepayahan, apalagi 2 keranjang. Turunlah beliau di epicentrum. Lalu 2 orang dibelakang saya nyeletuk, bapak itu mau ke pasar apa gitu, nah lo ko turun di epicentrum, ada pasar apa di epicentrum, dan memang tidak ada. Mereka cuma bilang kasihan.

Saya sejurus melihat ke arah belakang, seiring bergerak nya kopaja, dan terlihat kakek itu kebingungan, dan tubuh yang tua itu sangat berat sekali rasanya menanggung beban dagangan itu. Sedih bombai rasanya, kemana anak kakek itu, kenapa tubuh setua itu masih berada dijalanan jakarta yang keras dan panas. Seharusnya beliau duduk tenang dirumah, ditemani segelas teh hangat dikala rintik hujan yang mendingin. Tapi kenyataan berbalik arah, beliau masih berjuang tentang hidup, yang masih menghendakinya untuk melakukan itu.

Pilu hati, dan sekelabat pikiran menjurus ke pemimpin bangsa, orang2 yang memangku jabatan kepemimpinan di level manapun di negeri ini, harus memang bertanggung jawab atas tubuh renta yang tak lagi kuat itu. Sesungguhnya di hari akhir nanti, semua akan ditanya tentang kepemimpinannya. Kita saksikan jaman umar bin abdul azziz, begitu takutnya beliau akan harta yang bukan beliau miliki ketika menjadi khalifah dulu, sampai lampu pun dimatikan kala berbicara soal pribadi, bukan negara, dan dimasa beliau baitul maal sangat melimpah sehingga tak satupun rakyatnya kesusahan dan kelaparan. Itulah pemimpin yang takut, sementara adakah pemimpin seperti itu sekarang, semoga ada wallahualam.

Semoga kakek yang tidak saya kenal itu, baik amalannya, sehingga janji Allah akan surga kelak menjadi capaian akhir baginya, dan kita semua.

Takut euy jadi pemimpin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s