Mengukur bayang bayang

Memandang langit dunia begitu jauh, tangan tak mungkin menggapai, hanya kadang mata yang mampu menangkap kesan warnanya, warna biru langit siang yang pastinya disisi berbeda dari matahari.

Apalagi bintang, yang disiang hari tidak merupa, padahal ia tetap disana, hanya mata yang tidak kuasa menangkap ronanya, pun malam bintang menggelayut indah disudut2 angkasa, berkedip bak kunang2 yang indah, padahal bintang yang dipandang mata, pada waktu yang paralel, dengan jutaan tahun cahaya jauhnya, bisa jadi sudah menjadi bintang mati, atau melebur dengan bintang lain, atau kiamat karena diterjang asteroid dan berubah jadi planet2 yang bisa jadi merupai bumi. Semakin meuraikan indahnya kisah astronomi yang heroik, semakin kecil dan sangat atom sekali posisi kita dibanding luasnya jagat semesta ciptaan Allah yang Maha Agung, Maha besar. Lalu kenapa berlaku sombong?, lalu kenapa berbangga diri dengan apa yang dipunya, lalu kenapa harus berkeluh kesah pada apa yang tak dimiliki, padahal dunia sudah pasti senda gurau sahaja?

Sesungguhnya hidup benar2 singkat, baru sebulan lalu ramadhan datang, sekarang pun ia berlalu, bak berlalunya hitungan 1 menit, singkatnya waktu yang diukur dimasa dan detik sekarang, ibarat selisih 1 detik saja, dan tak mungkin terulang lagi.

Apa yang dibanggakan, apa yang ditunggu, apa yang ditakutkan, umur tidaklah bisa dipatutkan, lalu apakah rencana manusia, bisa dipastikan akan berlaku, lalu kenapa harus menunggu…berlalunya usia waktu demi waktu?

Ya Rabb, Engkau yang menguasai waktu, kuatkanlah azzam untuk setiap niat baik yang dirindukan untuk diwujudkan, namun pertimbangan yang entah dari mana bisikannya, masih terus menghentikan langkah untuk menyusuri jalan setapak dalam menemukan belahan jiwa yang kriterianya ada di kepala namun susah untuk dituliskan dalam untaian kata…

Kadang bayang2 terlalu pendek, namun pandangan terlalu menjulang laksana bintang, Allah lebih mengetahui hati manusia, lebih memahami semua, setiap tetesan air yang membelah setiap doa, setiap gumpalan harap dalam putaran masa yang tak pernah jeda… ia ibarat bintang tinggi dibelahan bumi berbeda sementara diri dalam keadaan payah dalam naik turunnya iman. Lalu apakah cukup untuk menjangkaunya?

Allah mengetahui semua, semoga diri bisa mengorbit tinggi dalam skala interstellar, untuk menggapai bintang yang ditakdirkan berkedip untuk dia saja…

Mari berhijrah dalam semangat untuk menjemput penyempurna kehidupan…

A couple days after ramadhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s