Meriam bambu

Kehidupan masa kecil memang menarik untuk dinikmati, sehingga menjadi sangat seru ketika flashback ke belakang, mengingat masa kecil di tanah bundo tacinto. Masa kecil layaknya sebuah layangan, bisa bebas bergerak kesana kemari, tergantung arah angin, bebas bermain apapun, dengan teman2 kecil, sangat2 menyenangkan, sehingga waktu pun terus bergulir, tidak bisa diajak berunding, dan singgah sebentar untuk berdiam, dia terus bergerak, menarik2, tanpa pandang bulu, sehingga momen masa kecil yang riang, gembira, waktu yang panjang, canda tawa, mandi2 disungai, main bola di sawah, main kelereng, main gambar, main kajai, main taktekong, main mancik2, dan main lainnya, tergerus tak tersisia, waktu menghukumnya, dan tidak akan pernah muncul lagi.

Emang terkesan melankolis, tapi memang masa kecil adalah masa2 yang sangat menyenangkan, kita tidak perlu untuk bersikap apa, tidak harus mengikuti apa, tidak perlu hal2 yang bersifat direksional, struktural, tidak perlu harus acting ini itu, tidak perlu mengejar apapun, dan memenuhi apapun yang membuat lelah, masa kecil benar2 masa dimana bumi ini terlihat sangat luas, dan setiap detiknya adalah kelapangan.

Dan masa dewasa memang tidak dapat dielakkan, tuntutan dalam hidup membuat kita mengisolasi banyak hal, tujuan menjadi lebih sempit dan waktu banyak dihabiskan mengejar ini dan itu, hilanglah secara perlahan masa2 untuk menikmati hidup tampa harus mempertimbangkan banyak hal. Ini bukanlah sebuah rintihan, ataupun bentuk ketidakberterimaan akan apa yang dialami, ini hanya ungkapan rasa rindu akan masa kecil yang sangat menyenangkan, dengan teman2 masa kecil yang sekarang menemukan kehidupannya sendiri, keinginan untuk sedikit menghadirkan fragmen2 masa kecilpun sedikitnya menciptakan rasa haru, mungkinkah ini terulang? Jawaban nya pasti tidak mungkin,  tentu saja.

Masa kecil dibulan ramadhan lebih mengharu biru, ramadhan benar2 menyenangkan, menunggu waktu buka dengan main layangan yang dibuat sendiri, membangunkan sahur dengan menyalakan meriam dari betung, ah benar2 menyenangkan. Kalaulah episode2 itu bisa terekam, dan diputar kembali, tentu saja akan sangat mengobati kerinduan itu.

Masa kecil di desa yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan, yang dekat dengan hamparan sawah yang menghijau, sungai yang jernih tempat bermandi riang, bukit2 yang berdiri kokoh dan ditemani riuhan burung yang mengkicau di siang yang hening, serta terik matahari menyinar tajam dalam hangat yang pas, merupakan kombinasi yang menakjubkan, maka semakin yakinlah akan kebesaran Allah dalam setiap rentang waktu menuju masa sekarang dan seterusnya.

#new place, great experience

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s