Perkara waktu

Kalau boleh disimpulkan bahwa hal yang menjadi perbedaan mendasar kenapa disatu sisi ada orang yang melejit menggapai prestasi diatas rata2 kebanyakan orang, namun disisi lain ada yang menjadi sangat sederhana dalam segi capain hidupnya, hal ini ternyata sudah memiliki jawabannya sendiri.

Dalam Islam telah dibenarkan bahwa ada qada dan qadar. Qada sudah pasti kita semua tau, hal yang berkaitan dengan ketetapan yang memiliki kekuatan hukum tetap dari Allah, masuk kategori ini, semisal jodoh, maut.

Beda dengan qada, qadar relatif lebih fleksibel, ia merupakan rangkaian kausalitas. Artinya ketetapannya itu tidak tetap, ada azas ketergantungan disitu. Keputusan itu akan dieksekusi jika dan hanya jika sudah ada usaha didalamnya.

Kembali ke masalah capaian hidup, kita memiliki jumlah waktu yang sama setiap hari, dia kamu saya kita mereka, semua sama. Disetiap waktu itu, ada ratusan bahkan ribuan macam aktivitas yang bisa dilakukan. Permutasi waktu dan berbagai pilihan pekerjaan yang dilakukan, kita yang menentukan. Apakah memilih productif, atau malah dibuang2 aja waktu itu dengan nonton gak jelas, browsing gak jelas, hangout gak jelas, dan banyak gak jelas lainnya.

Nah, orang yang seperti ini memiliki potensi yang besar untuk menjadi biasa saja, menjadi pengagum saja dan seterusnya. Sementara orang yang dengan hati2 mengatur waktunya, tidak ada waktu yang hilang tanpa hasil yang jelas, merekalah sekarang kita sering mengaguminya.

Urgensitas waktu memang sangat pelik, disetiap ruang nya itulah kita menumpahkan usaha, menggerakkan semangat, menuntaskan hasil. Kepelikan itu menjadi semakin jelas, ketika produktifitas digerogoti oleh kemalasan yang menciptakan kesiasian.

Setiap orang tau itu, dan sebagian orang yang benar benar memahami, sementara tentu sebagain lain tidak.

Maka qadar adalah sesuatu yang sangat bergantung pada usaha kita. Dan setelah itu tawaqqal. Maka hukum man jadda wa jada itu benar adanya, sehingga tidak perlulah kita merasa payah sendiri akan apa yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, karena mungkin saja ada proses yang belum lengkap, atau Allah sedang mengatur sesuatu yang lebih baik pada waktunya. Jadi sementara menjadi pengagum tidak apa2, asalkan tekad untuk menjadi orang yang dikagumi sehingga menjadi amal jariyah yang tak terlihat, tetap harus diwujudkan.

Mari menjalankan usaha dengan maksimal, dan lebih maksimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s