Jakarta

Jakarta kali ini memang ngangenin, betapa tidak, setelah hampir 2 bulan bekerja di perusahaan baru, dikota yang relatif lebih sepi dan kecil, jakarta seperti ada sihirnya. Meskipun kabut dan angkutan yang semrawut, tetap saja jakarta adalah jakarta yang saya kenal, jakarta yang menjadi pusat segala hal di Indonesia.

Jakarta seperti menarik2 saya untuk kembali, untuk berlabuh lagi, setelah beberapa waktu meninggalkannya. Ya Allah yang Maha membolak balik hati, berikan hidayah Mu untuk membaca tanda2. Untuk diperkuat atas setiap pilihan2, untuk setiap rona masa depan yang sangat samar, tak nampak sedikitpun latarnya.

Duhai Jakarta, kadang kurang menarik, tapi ngangenin. Kadang nyebelin, tapi dirindukan. Ah apalah ini, masih belum bisa membaca tanda.

Ya Rabb, bersihkan hati ini, agar semuanya menjadi terang benderang, tanpa sedikitpun penyesalan. Tapi yang pasti, Jakarta akan tetap seperti itu, ngangenin. Apalagi bandung, ah sudahlah…

Perkara waktu

Kalau boleh disimpulkan bahwa hal yang menjadi perbedaan mendasar kenapa disatu sisi ada orang yang melejit menggapai prestasi diatas rata2 kebanyakan orang, namun disisi lain ada yang menjadi sangat sederhana dalam segi capain hidupnya, hal ini ternyata sudah memiliki jawabannya sendiri.

Dalam Islam telah dibenarkan bahwa ada qada dan qadar. Qada sudah pasti kita semua tau, hal yang berkaitan dengan ketetapan yang memiliki kekuatan hukum tetap dari Allah, masuk kategori ini, semisal jodoh, maut.

Beda dengan qada, qadar relatif lebih fleksibel, ia merupakan rangkaian kausalitas. Artinya ketetapannya itu tidak tetap, ada azas ketergantungan disitu. Keputusan itu akan dieksekusi jika dan hanya jika sudah ada usaha didalamnya.

Kembali ke masalah capaian hidup, kita memiliki jumlah waktu yang sama setiap hari, dia kamu saya kita mereka, semua sama. Disetiap waktu itu, ada ratusan bahkan ribuan macam aktivitas yang bisa dilakukan. Permutasi waktu dan berbagai pilihan pekerjaan yang dilakukan, kita yang menentukan. Apakah memilih productif, atau malah dibuang2 aja waktu itu dengan nonton gak jelas, browsing gak jelas, hangout gak jelas, dan banyak gak jelas lainnya.

Nah, orang yang seperti ini memiliki potensi yang besar untuk menjadi biasa saja, menjadi pengagum saja dan seterusnya. Sementara orang yang dengan hati2 mengatur waktunya, tidak ada waktu yang hilang tanpa hasil yang jelas, merekalah sekarang kita sering mengaguminya.

Urgensitas waktu memang sangat pelik, disetiap ruang nya itulah kita menumpahkan usaha, menggerakkan semangat, menuntaskan hasil. Kepelikan itu menjadi semakin jelas, ketika produktifitas digerogoti oleh kemalasan yang menciptakan kesiasian.

Setiap orang tau itu, dan sebagian orang yang benar benar memahami, sementara tentu sebagain lain tidak.

Maka qadar adalah sesuatu yang sangat bergantung pada usaha kita. Dan setelah itu tawaqqal. Maka hukum man jadda wa jada itu benar adanya, sehingga tidak perlulah kita merasa payah sendiri akan apa yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, karena mungkin saja ada proses yang belum lengkap, atau Allah sedang mengatur sesuatu yang lebih baik pada waktunya. Jadi sementara menjadi pengagum tidak apa2, asalkan tekad untuk menjadi orang yang dikagumi sehingga menjadi amal jariyah yang tak terlihat, tetap harus diwujudkan.

Mari menjalankan usaha dengan maksimal, dan lebih maksimal.

Prolog rasa

Banyak kutemui kertas narasi dalam dunia maya. Ada tentang cerita, prosa, tentang rupa2. Baitnya beberapa indah terbaca, lainnya hanya untuk lewat sementara, lalu hilang entah kemana.

Lain lagi dengan guratan ini, ia seperti meneduhkan, menjinakkan emosi2 liar, yang mencoba menerka rahasia. Membatasi imajinasi yang terkontaminasi dengan latah. Entahlah, sepertinya ketika tema itu menggema, semua sayup2 seirama. Apakah begitu sama?

Lalu, cobalah dipelajari lebih dalam, oh ternyata itu rupanya. Aduhai ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang berharap, dan ada juga yang diam saja.

Ah tampaknya tidak perlulah mengharu biru sebegitunya, narasi itu hanya sebuah fiksi. Bukan ilmu pasti kali bagi. Frekuensinya memang landai, tak terlalu susah untuk digapai, tapi jika terlalu sering, payah juga nanti.

Lalu kututup sedikit lembaran narasi pertama, mencoba menerka alurnya, eh, ternyata ini adalah kumpulan prolog rasa. Pantesan saja.

Luruskan Niat

Bagi yang paham, apabila sedang berada dalam proses menuju pernikahan, saat ditanya perihal niatan menikah, maka mayoritas jawabannya adalah sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Subhanallah.. betapa mulianya niat tersebut. Nah.. pertanyaannya, betulkah niatnya lurus untuk Allah dan hanya karena Allah? Hehehe.. biasanya, saat ditanya demikian, kita akan mengangguk yakin bahwa niatannya betul-betul lurus untuk ibadah kepada Allah.  Tapi sekali lagi, betulkah demikian?

Melalui postingan kali ini, yuk kita sama-sama analisis kelurusan niatan menikah kita. As usual based on my own experiences

Subhanallah.. Allah sungguh luar biasa. Pada saat saya sedang berproses ta’aruf kemarin, kami dipertemukan dengan seorang ustadz yang luar biasa pula, dan memang berkapasitas untuk menasihati orang-orang mengenai ilmu-ilmu pernikahan dalam Islam, terutama yang sedang dalam proses ta’aruf seperti kami.

Masih tampak jelas dalam ingatan saya, sore itu kami duduk di ruang buku ustadz tersebut, bersiap untuk mendengarkan berbagai wejangan demi kemudahan proses kami menuju pernikahan. Saya pribadi pada saat itu membayangkan akan menerima nasihat-nasihat indah yang menggiring harapan baik menuju pernikahan idaman. Hati saya dipenuhi pengharapan akan mendapatkan penjelasan mengenai langkah demi langkah yang jelas, untuk mencapai pernikahan yang barakah.

Pertemuan pertama saya dengan ustadz memperlihatkan saya pada sosok bapak yang tampak sangat bijaksana. Beliau ini merupakan mantan preman, yang setelah hijrah, malah semakin melesat dan kini sudah mendirikan banyak sekali rumah tahfidz untuk para santri penghafal Al Qur’an, subhanallah. Tak hanya itu, dunia kini justru berduyun-duyun mengejarnya.

Ustadz membuka percakapan melalui perkenalan dengan kami terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan bertanya mengenai kesibukan kami sehari-hari. Obrolan kami berlangsung sangat santai seperti sedang silaturahim biasa, bukan berguru atau memohon nasihat. Kami pun akhirnya menyampaikan niat kedatangan kami. Ustadz tersebut tersenyum memandangi kami yang saat itu sedang dalam proses ta’aruf. Bukannya memberikan nasihat, beliau malah meluncurkan pertanyaan, yang hingga sekarang menjadi pedoman kuat saya dalam pelurusan niat menikah. Simak baik-baik ya..

“Nak.. kalau kalian yang sudah berproses hingga sejauh ini ternyata  pada akhirnya kalian tidak berjodoh, tidak bisa sampai ke pernikahan..” beliau menghela nafas sebentar, kemudian menatap kami, “Bagaimana perasaan kalian?”

Seketika kami terdiam. Bagi saya pribadi, itu merupakan hal yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali sebelumnya. Saking saya menikmati proses ta’arufyang indah sesuai syariat Allah, tidak sekalipun terlintas dalam benak saya apabila kelak ternyata kami sebetulnya tidak berjodoh. Saya terdiam cukup lama, merenungkan seandainya hal tersebut benar-benar terjadi. Tidak terbayang sama sekali.

Ustadz memecah keheningan kami dengan mengulang kembali pertanyaan yang sama, “Bagaimana seandainya ternyata setelah berproses sejauh ini, ternyata kalian tidak bisa sampai ke pernikahan sebab kalian memang tidak ditakdirkan Allah untuk berjodoh?” Kami terdiam kembali dan benar-benar membayangkan apabila kelak hal tersebut benar terjadi. Dan akhirnya ustadz bertanya kembali, “Bagaimana perasaannya? Ternyata berat ya membayangkan bila setelah berproses sejauh ini ternyata tidak bisa sampai ke pernikahan?” Saya mengangguk dalam hati. Sungguh berat sekali membayangkan apabila benar suatu hari ternyata proses kami harus terhenti atas alasan apapun, sebab proses kami indah sekali, khususnya bagi saya.

“Nak.. rasa berat hati saat membayangkan seandainya diri tidak berjodoh dengan pasangan yang sedang berproses sekarang merupakan tanda bahwa niat menikahmu belum lurus untuk Allah SWT.”

Subhanallah.. JLEB!!

“Ucapanmu mengenai niatan menikah karena Allah, demi ibadah yang lebih lengkap, pengutuhan keimanan, dll.. mudah sekali diuji kebenarannya dengan cara demikian tadi. Bayangkan bila seandainya tidak berjodoh. Ucapanmu diuji melalui rasa hatimu yang jelas tidak bisa berdusta.”

Seketika itu diri ini diliputi muhasabbah yang sangat dalam. Pernyataan ustadz tersebut berputar-putar di kepala. Saya menunduk. Benar, sangat benar. Rasa hati yang berat itu merupakan bukti nyata bahwa niatan menikah saya belumlah lurus karena Allah. Ustadz tersenyum. Tampak dari wajahnya, beliau sangat memahami jawaban dalam hati kami.

Beliau kemudian melanjutkan,

“Sebetulnya, bila niatan menikahnya benar-benar lurus, rasa berat hati apabila ternyata tidak bisa bersatu dalam pernikahan itu tidak akan ada. Hati yang lapang menerima dengan ikhlas atas apapun ketentuan-Nya bisa dengan mudah dimiliki apabila diri sudah sangat yakin bahwa apapun yang terjadi di muka bumi ini, sebenarnya merupakan ketentuan baik dari Allah. Lagipula, bila benar ternyata tidak berjodoh, berarti Allah sedang siapkan yang benar-benar terbaik menurut-Nya. Apa yang harus disedihkan?”

Saya menenggelamkan diri dalam muhasabbah yang lebih dalam lagi. Saya mengangguk lebih kencang dalam hati. Iya benar, itu benar, sangat benar. Ustadz melanjutkan kembali, “Jadi untuk menggapai pernikahan yang barakah, pertama-tama.. luruskan dulu niat menikahmu, sebab itu yang sebetulnya cukup sulit. Bila niatan sudah lurus, selebihnya insyaAllah akan dimudahkan.”

Ustadz menyampaikan kalimat demi kalimat dengan penuh ketenangan dan diwarnai senyuman yang sangat bijaksana. Sungguh, hari itu merupakan pembelajaran luar biasa. Yang awalnya mengharapkan nasihat langkah demi langkah menuju pernikahan barakah, justru dihadiahi nasihat yang sangat mendasar dan menjadi pondasi kokoh diri sebelum melangsungkan proses pernikahan.

Perjumpaan kami hari itu ditutup dengan sebuah pemaparan indah dari ustadz.

“Nak.. tidak ada masalah sama sekali dengan hasil akhir yang tidak sesuai dengan harapan sekalipun, apabila dalam prosesnya kalian sama-sama menjalaninya penuh ketaatan kepada Allah disertai dengan niat yang lurus. Dan sekali lagi, niat yang lurus bisa diukur dengan bertanya pada diri sendiri perihal ikhlas atau beratkah bila ternyata tidak saling berjodoh. Yakinlah Allah pasti berikan keputusan yang terbaik bagi hamba-Nya. Jadi sebetulnya tak ada alasan bagi kita berberat hati terhadap apapun yang tak sesuai dengan harapan. Saya doakan, semoga niat lurus selalu bersemayam dalam hati kalian. Dan bila belum lurus, maka berlatihlah terus.”

Subhanallah.. sebuah perjumpaan yang sangat bermakna. Sejak saat itu, setiap hari saya melatih diri meluruskan niat saya menikah. Setiap ada sedikit perasaan yang beranjak semakin dalam pada calon pasangan, seketika saya menarik diri dan meluruskan niat saya kembali, hanya untuk Allah, dan karena Allah. Hari demi hari saya berulang kali memaksakan diri meluruskan niat menikah yang sejujurnya tidak mudah, hingga akhirnya saya menemukan diri saya terbiasa dengan niatan menikah yang lurus, insyaAllah.

Alhamdulillah, sebuah pertemuan singkat dengan ustadz tersebut mampu mengkokohkan pondasi utama proses menikah, yaitu dalam hal pelurusan niat menikah.  Hingga akhirnya saya menyadari, tidak ada kekhawatiran sedikitpun aapabila ternyata jodoh saya bukanlah dia yang sedang berproses dengan saya. Cukuplah saya menjalankan prosesnya sesuai dengan yang Allah suka, dan hasilnya biar Allah yang tentukan, suka-suka Allah saja. Tapi bukan berarti saya tidak serius menjalankannya. Saya hanya berpegang teguh bahwa apapun yang jadi ketentuan Allah, pastilah yang terbaik. Menikah kapanpun pada waktu terbaik-Nya, dengan siapapun pilihan terbaik-Nya. Alhamdulillah, ringan sekali rasanya menjalani kehidupan dimana segala sesuatu hal digantungkan harapannya hanya kepada Allah dan hanya untuk Allah. Sebuah anugerah yang tidak semua orang bisa miliki bila ia tidak yakin kepada-Nya. Terimakasih ya Rabb, I love You more

WA dari temen thanks bro, sudah mau mengingatkan

Luruskan kembali niatnya. Great to this tumblr

Inikah…

Ujungnya sepertinya itu,

Banyak kuukir frasa dalam bejana waktu

Tak jua kutemua dia diseperempat abad lebih masaku,

Tapi tiba2 ada yang mengetuk, seperti menyelinap bercerita,

Tapi benarkah,

Sempat kuterka dalam setiap siluet yang temaram,

Lagi berjuang dalam payah untuk pantas,

Ini lebih serius dari yang dikira,

Tapi inikah waktunya,

Semakin mendekat dalam jawab,

Detak2 menjadi tak menentu,

Tuhan sepertinya sudah ingin mengetuk palu-Nya

*Gubahan dari sini

Hujan doa

Batam tampaknya menjadikan seseorang yang melankolis menjadi sangat melankolis. Betapa tidak, semenjak memutuskan untuk hijrah ke kota batam, selalu setiap hari ada rintik hujah yang selalu senang kelihatannya menghujam bumi kota ini. Dan setiap hujan itu pula selalu memaparkan doa, yang katanya salah satu waktu yang mustajab untuk mengutarakannya.

Ah, hujan, selalu senang dengan hujan yang sederhana, yang sedang2 saja, karena hujan yang seperti itulah hujan yang berkah. Ya Allah, again kabulkan doa hamba.

Hi pemuda…

Hari ini adalah sumpah pemuda, dan bagaimana keadaan pemuda sekarang, penuh rupa2. Banyak mahasiswa yang menggapai banyak prestasi, dan dilain hal banyak juga pemuda yang masih berkutat dengan hidup yang kelam, tapi itulah rona pemuda hari ini. Dan optimistis tetap harus dikuatkan, semoga lahir pemuda dengan watak religius, nasionalis dan moderat.

Selamat hari sumpah pemuda 28 October 2016.

I still have remaining time, hopefully have….